Konsep kepemimpinan rendah hati memang dia terapkan di manapun dia mengabdi, termasuk di Green School, bahkan di lingkup keluarga. Sikap rendah hati bisa menghindari diri dari keangkuhan atau "nyapa kadi aku" dalam filosofi Bali.
"Saya merasa kemampuan saya terbatas. Tajam dalam satu bidang. Kalau debat soal konstruksi bangunan, tentu saya bisa kalah dengan mahasiswa smester awal prodi teknik sipil," kata Tirka Widanti.
Rasa haus akan pengetahuan terus ia pelihara. Ia tak segan belajar dari security, staf bahkan anak kecil. Menurut Tirka Widanti pengetahuan sangat luas dan tidak terbatas. Tidak ada pemimpin yang mampu menguasai segala ilmu. Sehingga menjadi pemimpin yang bijaksana menjadi pilihan paling realistis.
Ia melanjutkan, sikap rendah hati pada pemimpin penting karena meningkatkan keterlibatan dan kinerja karyawan, memupuk kepercayaan dan budaya kerja yang positif, memfasilitasi pertumbuhan dan pembelajaran, serta membantu pemimpin mendapatkan promosi dan menghargai kontribusi orang lain.
Sebuah penelitian menunjukkan pemimpin yang rendah hati lebih mampu membangun rasa percaya, memberdayakan tim, dan mengelola kompleksitas di lingkungan kerja, sehingga menghasilkan organisasi yang lebih efektif.
Sebab, para pemimpin yang rendah hati akan berlaku adil, memiliki empati yang tinggi, serta akan mendengarkan karyawannya. Sehingga karyawan akan tidak segan untuk mengungkapkan ide, gagasan, termasuk kesulitan yang mereka hadapi saat bekerja.
Tidak hanya bagi para pemimpin, setiap orang perlu bersikap rendah hati pada orang lain. Salah satu manfaatnya, agar dapat terhindar dari sikap sombong yang mampu merugikan orang lain.










