Selain balita stunting, timnya juga menemukan persoalan kesehatan lain di Desa Tembok, misalnya tingginya hipertensi di kalangan lansia, karies gigi pada anak SD, perilaku membakar sampah, lansia tidak mendapatkan pelayanan posyandu serta 100 persen remaja putri belum mendapatkan informasi tentang pencegahan anemia.
Masalah yang paling menjadi konsentrasi Kepala Desa adalah kebiasaan anak-anak sekolah mengkonsumsi minuman berwarna dan pemanis, dikhawatirkan akan terjadi kasus Diabetes Melitus (DM) pada usia muda.
Pengabdi pun menjawab persoalan kesehatan itu dengan melakukan langkah untuk menurunkan jumlah balita yang mengalami stunting di Desa Tembok, meningkatkan pengetahuan ibu dan remaja mengenai stunting, eningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai anemia, menurunkan kasus karies gigi usia SD, menekan hipertensi, menggelar posyandu lansia serta pendampingan pengolahan sampah yang tidak berisiko mencemari lingkungan.
“Kami berkolaborasi dari berbagai disiplin ilmu kesehatan seperti ilmu Gizi, Keperawatan, Kebidanan, Teknologi Laboratorium Medis (TLM), Kesehatan Gigi, dan Kesehatan Lingkungan dalam hal memberikan edukasi dan pendampingan, sehingga mencapai tujuan secara optimal,” ungkapnya.
Saat penyuluhan dan pendampingan, pengabdi dari masing-masing jurusan memberikan edukasi sesuai bidang ilmunya, dengan sasaran para kader posyandu, PKK, perangkat desa, bidan desa, ibu rumah tangga, balita, kepala sekolah, guru dan murid, UKS dan KPM. Program prioritas pengabdian pun disinergikan dengan program desa. Pada saat yang sama digelar juga layanan cek HB dan gula darah gratis untuk masyarakat umum.










