Kinerja ekonomi Bali tidak terlepas dari perkembangan kinerja pariwisata. Pada tahun 2019 kinerja pariwisata sedikit tertahan, tercermin oleh melambatnya perkembangan kunjungan wisman, diantaranya karena dampak lanjutan penegakan zero dollar tourism, bencana alam, ekses pemilu dan semakin kompetitifnya destinasi wisata dunia. Pada awal 2020, kinerja pariwisata juga tertekan akibat virus Corona yang berasal dari China, sehingga jumlah wisman yang berasal dari China diperkirakan turun drastis.
"Masih kuatnya kinerja konsumsi di Bali tidak terlepas dari masih kuatnya daya beli masyarakat yang didukung oleh terkendalinya inflasi di Bali. Koordinasi, sinergi, dan komitmen TPID pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota menjadi kunci keberhasilan menjaga inflasi di 2019 dengan strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Ekspektasi. Tahun 2019, inflasi Bali tercatat cukup rendah, 2,38%. Ke depan, inflasi Bali masih menghadapi beberapa tantangan terkait dengan rencana kenaikan cukai rokok, rencana kenaikan iuran BPJS kesehatan, peningkatan kunjungan wisatawan yang membawa konsekuensi peningkatan permintaan serta peningkatan biaya pendidikan. Meskipun demikian, dengan koordinasi yang solid, inflasi pada tahun 2020 diperkirakan masih berada dalam sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3%±1% (yoy)," pungkasnya. (kdp)










