Pernikahan Dini Sangat Berisiko, BKKBN Bali Lakukan Upaya Pencegahan

IMG-20241020-WA0006

"Kasus pernikahan di usia dini sangat beresiko terhadap bayi lahir stunting. Disamping itu juga pasangan yang menikah di usia muda belum siap baik secara psikologis dan finansial," ugkapnya.

Lebih lanjut, kata dia, selama 1000 hari pertama kehidupan, tepatnya sejak perempuan dinyatakan hamil sampai bayi umur dua tahun harus diperhatikan asupan gizinya.

"Berikan bayi air susu ibu (ASI) selama 6 bulan tanpa makanan pendamping. Ini penting sekali agar bayi mendapatkan pertumbuhan yang baik," imbaunya.

Bagi remaja yang akan menikah, ia mengingatkan perlu melakukan cek kesehatan, agar diketahui kondisi kesehatannya. Terutama calon pengantin perempuan, agar saat hamil dan melahirkan dalam kondisi yang sehat.

"Ini perlu kerja sama para bendesa adat untuk membuatkan perarem, agar calon pengantin memeriksakan kesehatannya di fasilitas kesehatan. Mengukur berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan kadar hemoglobin. Kemudian hasilnya dimasukkan ke aplikasi ELSIMIL
(Elektronik Siap Nikah dan Hamil)," jelas dr. Luh De.

Perbekel Desa Siakin, I Gede Disi menyambut baik keahdiran BKKBN untuk menyampaikan program kesehatan repsoduksi dan pendewasaan usia pernikahan.

Di Desa Siakin, kata perbekel, telah terbentuk satu Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas mendampingi keluarga- keluarga beresiko stunting, termasuk ibu hamil.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini BKKBN Bali hadir untuk memberikan perhatian kepada warga kami, khususnya remaja," ujar Disi.

"Warga kami ada beberapa yang menikah di usia sangat muda. Agar tidak bertambah lagi kasus ini, maka kami perlu sosialisasi ini," imbuh Disi.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top