"Saya sangat menikmati proses perjalanan karir saya. Mulai dari karyawan bawah hingga diangkat menjadi dosen. Sungguh ini berkat kebaikan pimpinan Undiknas dan Perdiknas," kata Sudiksa, dikonfirmasi Rabu (16/8/2023).

Dalam disertasinya, Sudiksa menguliti fenomena tingginya angka pengangguran terbuka dari lulusan perguruan tinggi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Setelah dikaji, dia menemukan belum terbangunnya 'link and match' antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri (dudi).
Bapak tiga anak ini, menemukan akar persoalan, banyaknya perguruan tinggi yang tidak mengacu pada bakat dan minat mahasiswa dalam menyusun capain pembelajaran lulusan. Serta banyak perguruan tinggi yang tidak mengakomodir kebutuhan dudi.
Solusinya, menurut Sudiksa, perguruan tinggi harus mampu menentukan profil lulusan dengan kompetensi bakat dan minatnya masing-masing dikolaborasikan dengan kompetensi inti dari program studi dengan catatan harus mengakomodir juga kebutuhan pengguna lulusan.
Hal ini bisa dimulai dari menentukan input. Sedini mungkin sebuah perguruan tinggi menemukan minat dan bakat murni calon mahasiswanya. Berbeda dengan kasus selama ini banyak mahasiswa yang "salah jurusan". "Hal itu disadari setelah dia masuk beberapa semester," jelas Sudiksa.
Salah jurusan, lanjut Sudiksa, didominasi oleh faktor "briuk siu" atau ikut-ikutan teman padahal bukan bakatnya di sana serta faktor intervensi orangtua. "Umpama si A kuliah di prodi ilmu hukum tapi bakatnya di ekonomi. Maka solusinya, dia bisa disarankan pindah prodi. Atau jika bertahan, arahkan memilih hukum bisnis," sarannya.










