“Masih banyak hal yang bisa dibuat, misalnya tempat tisu, tas atau topi. Sehingga produknya diperlukan oleh semua orang, tidak saja antar-umat Hindu,” kata Kartika.
Selain itu, pemasaran juga perlu dirubah dari pola konvensional ke digital marketing. Dari beberapa perajin yang dikunjungi, memang sudah ada yang memaksimalkan digital marketing atau penjualan berbasis online.
Selama ini, para perajin cenderung memilih berjualan di sebuah pameran. “Bagi mereka pameran sangat menjanjikan. Ada keyakinan kalau jualan di pameran sangat laku keras,” ungkapnya.
Ke depan, tim peneliti berencana menindaklanjuti penelitian ini yang dikemas dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian. Hal ini dinilai sangat penting untuk menjaga budaya dan alam. Sebab, produk yang dihasilkan ramah lingkungan. Pohon bambu juga perlu dilestarikan untuk kebaikan alam.

Di tengah gempuran persaingan yang semakin kompetitif dengan adanya produk baru berbahan sintetis, Kartika berpesan kepada perajin agar tidak khawatir. Justru menjadi tantangan untuk meningkatkan kualitas. “Yang asli pasti dicari,” jelas dia.
Ia mengapresiasi inovasi perajin yang sudah menciptakan model-model baru, bahkan melayani custom atau permintaan sesuai minat pembeli, misalnya penambahan nama si pemesan. Kecenderungan mengoleksi keben di setiap rumah tangga juga membawa dampak signifikan bagi perajin. Di dalam setiap rumah orang Bali rata-rata memiliki tiga buah keben.
Terkait perhatian pemerintah, dinilai sudah sangat bagus. Pelatihan hinnga fasilitasi ekspor telah dilakukan bagi para perajin. Dukungan dari pemerintah tentu menjadi angina segar agar perajin tetap semangat.










