Perajin Anyaman Bambu Perlu Diberdayakan

KARTIKA 2
Ketua Tim Peneliti mengunjungi perajin anyaman bambu.

DENPASAR-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Kerajinan anyaman bambu masih menjadi tulang punggung mata pencaharian sebagian besar warga di Desa Tiga Wasa dan Pedawa Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, serta Desa Sulahan, Tanggahan Peken, Kayu Bihi, Kabupaten Bangli.

Kerajinan yang dihasilkan berupa keben atau sokasi, besek, lumpian dan sejenisnya merupakan buah dari pemanfaatan potensi lokal berupa bambu yang memang melimpah di desa-desa tersebut. Kerajinan ini juga tergolong skill terun-temurun.

Untuk menjaga eksistensi kerajinan bambu, bahkan mengangkat produknya ke level yang lebih tinggi, Tim Dosen Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar melakukan penelitian di desa-desa sentra perajin anyaman bambu di Kabupaten Buleleng dan Bangli.

Ketua Tim Peneliti Dr. I Made Kartika, SE., M.MA., CSCA., menjelaskan temuan di lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku (bambu) masih aman, jumlah perajin juga masih banyak bahkan beberapa di antaranya generasi muda dan perantauan dari luar Bali.

Hanya saja, menurut Kartika, yang menjadi poin penting yang harus didampingi adalah faktor pemasaran. Selama ini, diketahui produk-produk anyaman yang didomonasi keben ini, identik dengan umat Hindu sebagai wadah sejajen (banten) atau untuk tempat barang saat kondangan.

Sehingga pangsa pasarnya hanya umat Hindu, baik di Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Dari persoalan ini, peneliti mendorong agar perajin senantiasa berinovasi menciptakan produk yang menjangkau kepentingan umum, tidak terbatas kepentingan umat Hindu.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top