Di sisi produksi, tim pengabdian memperkenalkan diversifikasi melalui pengolahan ikan tongkol menjadi abon ikan dan kerupuk ikan.
Kedua produk olahan ini dipilih karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi, dan memiliki daya tahan yang lebih lama, sehingga mampu menjamin keberlangsungan produksi saat pasokan ikan tongkol berkurang dipasar, misalnya saja saat hasil tangkapan nelayan sedikit karena faktor cuaca dan gelombang laut yang tinggi.
Pada pelatihan produksi ini tim menekankan untuk selalu menjaga kebersihan, kualitas rasa dan memakai kemasan yang lebih menarik. Selain untuk menjaga produk tetap layak konsumsi juga agar dapat menarik minat konsumen untuk membeli.
Dari sisi manajemen keuangan, tim memberikan pelatihan pencatatan sederhana agar anggota bisa memantau arus kas harian. Mulai dari pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pembuatan buku kas harian, hingga penyusunan laporan laba rugi sederhana, semuanya dirancang agar mereka lebih percaya diri dalam membaca kondisi usaha.
Kemudian, di bidang pemasaran, pelatihan difokuskan pada dua jalur, yaitu memperkuat posisi di pasar tradisional sekaligus membuka akses ke pasar digital. Anggota diajak memanfaatkan media sosial sederhana untuk promosi dan belajar branding produk yang konsisten.
Dengan kombinasi strategi ini, abon ikan dan kerupuk ikan memiliki peluang besar untuk menjadi oleh-oleh khas Nusa Penida atau bahkan dapat dikirim ke luar daerah.
Pendekatan ini tidak hanya memperluas jangkauan konsumen, tetapi juga meningkatkan citra KUP Nusa Mandiri sebagai pelaku UMKM perempuan yang kreatif dan adaptif terhadap kebutuhan pasar.










