Bukan sebaliknya, pendidikan agama justru dikonstruk sebagai mata pelajaran yang eksklusif dan dogmatis, sehingga sedikit banyak telah memberi andil atas terjadinya konflik horizontal yang bernuansa SARA, dan kekerasan antar-warga di suatu lembaga pendidikan, seperti yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini.
Lebih lanjut, Suda juga menyebut secara umum sekolah-sekolah di Indonesia mengalammi krisis keteladanan. Sebagai pemerhati dan praktisi pendidikan, ia mendorong penguatan sekolah berbasis Pasraman atau istilah lain seperti Pesantren sesuai agama mayoritas penduduk. “Orangtua juga jangan khawatir menyekolahkan anak di Pasraman bukan berarti kemunduran. Malah nantinya anak memiliki kelebihan berupa akhlak mulia,” kata Suda memungkasi. (gde)










