DENPASAR-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Kasus kekerasan yang dilakukan seorang siswa SMA di Madura, Jawa Timur yang menewaskan gurunya, menjadi sorotan se-antero Nusantara. Parahnya, kejadian serupa bukan kali pertama melanda dunia pendidikan Indonesia.
Pengamat pendidikan asal Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., menilai, salah satu faktor yang memicu kemerosotan moral pelajar diakibatkan terjadi ‘kastanisasi’ pendidikan di sekolah.
Suda menjelaskan, kastanisasi yang dimaksud adalah menomorduakan mata pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan moral, seperti agama dan budi pekerti. “Di tengah moderenisasi zaman, masyarakat menganggap pelajaran terpenting adalah teknologi. Lalu, pelajaran agama dinomorduakan. Akibatnya ya, jangan heran kalau perilaku anak-anak kita seperti itu,” kata Suda di Denpasar, Selasa (6/2/2018).
Secara teks ideal, lanjut Suda, pemberian pendidikan agama di sekolah formal memiliki misi, selain meningkatkan ‘sradha’ dan ‘bhakti’ para peserta didik, agar dapat menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan religiousitas dalam kehidupan masyarakat, juga dimaksudkan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama.
Kemudian direkonstruksi secara komprehensif dan dinamis dalam upaya membangun suatu masyarakat yang bermoral dan beradab. Ia menambahkan, kurikulum pendidikan agama di sekolah mesti dipahami sebagai sarana komunikasi atau interkasi imam, baik intern maupun ekstern umat beragama.










