Kader, kata Kompiang Sriasih, sebagai garda terdepan dalam peningkatan Kesehatan Masyarakat sangat penting untuk mengupdate ilmu dalam upaya pencegahan balita stunting sehingga menurunkan angka stunting. Pendampingan kader bersama program puskesmas terkait program gizi, KIA, promkes sehingga nantinya akan bisa diteruskan pada sasaran balita di masyarakat.
Menurut Kompiang Sriasih, secara umum penyebab gizi kurang pada balita adalah tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang yang disebabkan rendahnya pengetahuan keluarga tentang gizi dan cara pengolahannya.
“Perbaikan gizi pada balita, tidak cukup hanya dengan memberikan PMT saja, tetapi juga dengan peningkatan pengetahuan gizi keluarga. Meningkatnya pengetahuan dan metode pengolahan makanan sebagai intervensi boleh jadi akan diikuti dengan perubahan perilaku,” katanya.
Masalah gizi kurang sangan erat kaitannya dengan terjadinya stunting pada balita. Salah satu faktor yang berperan aktif dalam mendeteksi dini masalah adalah peran seorang ibu balita dan kader. Ibu balita berperan langsung dalam hal pengolahan makanan pada balita. Kader adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat.
Kader berperan aktif dalam penimbangan balita, pencatatan/pengisian KMS, keterampilan dalam interpretasi hasil penimbangan, memberikan motivasi dan edukasi kepada masyarakat. Kader kesehatan mempunyai peran besar dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal sehingga dapat dilakukan pemberdayaan kader.










