Diskusi berlangsung dinamis. Para tokoh adat, penyuluh KB, mahasiswa, dan remaja turut bertukar pandangan. Banyak yang berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dengan melibatkan banjar-banjar adat.
Dari sesi ini muncul kesadaran kolektif bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama — antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Usai sesi indoor, tim melanjutkan kunjungan lapangan ke tiga Keluarga Berisiko Stunting (KRS). Salah satunya pasangan Komang Kerta Yasa dan Putu Rika, pasutri berkebutuhan khusus yang tinggal di Lingkungan Tegal Saat.
Rumah mereka sederhana, berdinding kayu dengan dapur tua di sisi depan. Di rumah inilah mereka mengasuh bayi perempuan yang baru lahir 26 September 2025.
Kepala Perwakilan BKKBN Bali memberi edukasi langsung tentang pentingnya ASI eksklusif dan nutrisi seimbang. Rika, yang mengalami tunagrahita, mengaku terkadang kesulitan memberi ASI karena produksinya tidak lancar. Sukardiasih lalu memberi tips agar ASI keluar optimal dan menegaskan bahwa ASI adalah benteng pertama mencegah stunting.
Selain edukasi, keluarga ini juga menerima bantuan paket nutrisi enam bulan dari akademisi dan mahasiswa Unud yang menjadi Orang Tua Asuh.
“Perguruan tinggi tidak hanya berbicara teori, tapi juga turun memberi solusi,” ujar Prof. Darma Putra saat menyerahkan bantuan secara simbolis.
Kegiatan yang turut dihadiri Lurah Kapal, tokoh masyarakat, dan Sekaha Teruna-Teruni ini menjadi bukti nyata bahwa pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara sektoral.










