Pemkab Badung Pelajari Teknis SWRO di Gili Trawangan

u12-1000449081

 

Arjana menyebut bahwa meskipun biaya investasi SWRO cukup besar, Pemkab Badung tetap berupaya mewujudkan opsi ini karena kondisi wilayah selatan yang kedekatannya ke laut membuat teknologi tersebut layak dipertimbangkan. Ia mencontohkan kondisi di Gili Trawangan yang tidak jauh beda dengan kondisi di Badung Selatan, yakni keberadaan laut sebagai sumber air baku yang sangat dekat.

 

Sementara itu, Direktur Teknik PDAM Tirta Mangutama Made Suarsa menyampaikan bahwa fokus utama saat ini adalah wilayah Badung Selatan, karena di utara sumber air relatif masih cukup. Sedangkan di selatan, sumber air kurang memadai. Saat ini badung tengah melakukan pembangunan infrastruktur pipa bawah laut, meski perizinan masih dalam proses karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi.

 

PDAM mengungkap bahwa mereka sedang membangun desain dari hulu ke hilir. “Sementara sebagai cadangan (backup) melalui reservoir juga sedang disiapkan sambil menunggu pipa bawah laut selesai. Sehingga apabila pipa bawah laut belum rampung, maka reservoir ini akan menjadi backup untuk menjaga stabilitas suplai,” ucapnya.

 

Kebutuhan air di Badung Selatan ditargetkan minimal 1.500 liter per detik dan maksimal hingga 2.000 liter per detik. Saat ini, kekurangan tercatat sekitar 1.000 liter per detik dengan izin yang telah keluar baru sekitar 300 liter per detik, yang hanya dapat bertahan untuk beberapa tahun.

 

PDAM melihat opsi SWRO sebagai pilihan selanjutnya untuk menutupi kekurangan tersebut. “Kunjungan kerja ini menjadi langkah penting dalam upaya Pemkab Badung untuk mengamati dan belajar dari praktik pengolahan air laut menjadi air tawar, dengan harapan nantinya bisa diterapkan di Badung Selatan,” harapnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top