Selanjutnya harga beras premium di pasar Buleleng masih berkisar Rp 12.000/kilogram.“Harga cabe rawit memang naik. Ini saya ngambilnya di jawa. Karena di sini (Buleleng-Red) masih langka,”ujar Sutanto. Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Dewa Made Sudiarta saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon tak menampik ada sejumlah komoditas kebutuhan pokok melonjak. Hanya saja, Sudiarta menjamin jika stok pangan tersebut masih tersedia.”Secara umum memang masih stabil. Tapi yang naik menonjol itu Gula Pasir. Kalau cabe memang naik, tapi masih wajar. Itu karena pasokan terbatas, apalagi situasi saat ini, sehingga mengalami kenaikan,”ujarnya.
Terkait stok beras dan tepung, Sudiarta menjamin kondisi cadangan aman hingga akhir tahun 2020 mendatang. Harga beras premium sebut Sudiarta masih bertengger di kisaran Rp 11.500-Rp 12.000/kg. Justru kenaikan signifikan terjadi pada bumbu jenis bungkilan (umbi-umbian).”Kalau jahe, kunyit, temulawak, itu memang naik. Apalagi sejak wabah Covid-19 memang sangat melonjak. Karena kan selain dipakai bumbu juga dipake jamu untuk menjaga imunitas. sedangkan kami mendatangkan jahe itu dari Jawa,”pungkasnya.
Di sisi lain, hari pertama diberlakukannya pembatasan jam buka operasional pasar tradisional dan modern di Buleleng masih berjalan normal. Suasana di tiga pasar tradisional seperti di Pasar Banyuasri, Pasar Buleleng dan Pasar Anyar tidak menunjukkan tanda-tanda membludaknya pembeli, kendatipun pasar hanya buka selama 4 jam, terhitung pukul 10.00 Wita hingga pukul 14.00 Wita siang. Dirut PD Pasar Buleleng, Made Agus Yudiarsana mengatakan, dari 13 pasar yang dikelola, tidak ada kunjungan pembeli yang membludak secara signifikan.










