MANGUPURA-fajarbali.com | Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI) kembali menggelar agenda tahunan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) 2026. Berlangsung selama tiga hari pada 1–3 September 2026 di Hotel Renaissance Bali Nusa Dua Resort, ajang ini menjadi wadah strategis dalam merumuskan arah dan transformasi pelayanan darah di Indonesia.
Tahun ini, PIT PDTDI mengusung tema "SHAPING THE FUTURE OF BLOOD SERVICES IN INDONESIA: Leadership, Standardization, Quality and Innovation". Melalui tema tersebut, insan kedokteran dan pelayanan darah berkomitmen memperkuat kepemimpinan, menaikkan standar kualitas keselamatan donor dan pasien, serta mendorong inovasi teknologi tanpa mengabaikan fondasi utama pelayanan.
"Tema ini menjadi cerminan tekad bersama seluruh insan yang terlibat dalam pelayanan darah untuk membentuk masa depan pelayanan darah yang dipimpin dengan kuat, dijalankan dengan standar tertinggi, dijaga kualitasnya untuk keselamatan donor dan pasien, serta terus berinovasi dengan tidak merubah pondasi tetapi berani mengganti atapnya untuk memajukan pelayanan darah di Indonesia," jelas Ketua Panitia, Dr. dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp.PK, Subsp.BDKT(K).
Pembukaan acara ilmiah bergengsi ini dihadiri oleh jajaran tokoh terkemuka dari sektor kesehatan dan pemerintahan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang diwakili oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, dr. Putu Camelia, M.Kes, hadir secara langsung sekaligus meresmikan pembukaan acara. Turut hadir memberi dukungan penuh di antaranya Ketua IDI Wilayah Bali Prof. Dr. dr. I Made Sudarmaja, M.Kes, perwakilan Pengurus PMI Provinsi Bali, Ketua Pengurus Pusat PDTDI dr. Robby Nur Aditya, M.Si beserta jajaran dewan pembina, serta Ketua Pengurus Pusat PDS PatKLin, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes, Sp.PK, Subsp.BDKT(K), Subsp. KV (K). Kehadiran para pemangku kepentingan ini mempertegas pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem pelayanan transfusi darah nasional.
Rangkaian kegiatan diawali pada Selasa, 1 September 2026, melalui aksi sosial pengabdian masyarakat di SLB Negeri 1 Badung. Momen ini menjadi bentuk kepedulian nyata para dokter dan tenaga kesehatan terhadap masyarakat berkebutuhan khusus, meski jumlah peserta harus dibatasi sebanyak 50 orang demi menjaga efektivitas serta kenyamanan di lokasi.
Pada hari yang sama, PIT PDTDI 2026 membuka pameran alat kesehatan yang diikuti 24 mitra kerja sama, disusul dengan tiga sesi workshop (WS) ilmiah yang diikuti 300 peserta. Rangkaian hari pertama ditutup dengan agenda organisasi penting, yakni pelantikan Pengurus PDTDI Cabang Bali yang kini resmi dipimpin oleh Dr. Ni Putu Chandra Indriasari.
Materi workshop berfokus pada penguatan kapasitas teknis dan manajemen medis. para peserta mendalami strategi pemilihan blood bag guna menjamin keamanan dan kualitas darah, standarisasi pemeriksaan Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD), serta optimalisasi penyediaan komponen plasma dan platelet memanfaatkan teknologi apheresis.
Agenda ilmiah berlanjut pada 2–3 September 2026 melalui sesi simposium berbobot yang mendatangkan 315 peserta dari seluruh Indonesia. Antusiasme peserta yang melampaui target awal sebanyak 300 orang ini membuktikan tingginya kebutuhan tenaga medis untuk terus memperbarui pengetahuan di bidang kedokteran transfusi.
"Jumlah peserta terpaksa harus dibatasi karena fasilitas tidak mendukung jika diterima berlebihan. Dengan harapan kegiatan ini tetap berkualitas meskipun kuantitas harus dibatasi. Kami berharap seluruh rangkaian tersebut dapat menjadi sarana bagi seluruh peserta untuk saling bertukar pengalaman, memperkuat jejaring, serta membuka peluang kerja sama di antara para dokter transfusi darah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah, institusi pendidikan, industri, dan seluruh pemangku kepentingan," jelas dr. Kadek Mulyantari.
Ragam topik strategis dikupas tuntas dalam simposium, meliputi tata kelola penyimpanan produk darah, aspek hukum dan etika medis, regulasi pelayanan, kolaborasi antarfasilitas kesehatan, hingga riset klinis. Pembahasan mengenai pemanfaatan Platelet Rich Plasma (PRP) dan Platelet Rich Fibrin (PRF) juga menjadi sorotan utama, khususnya dari sisi persiapan, evaluasi, hingga kontrol kualitas.
Sektor rekrutmen dan seleksi pendonor turut mendapat perhatian mendalam sebagai fondasi keamanan pasokan darah. Para pakar mendiskusikan strategi pengelolaan donor darah langka secara individual serta tata kelola donor plasma yang aman, teratur, dan berkelanjutan demi menjaga pasokan bahan baku medis nasional.
Guna mendorong iklim riset di tanah air, panitia menyediakan wadah kompetisi ilmiah melalui pameran poster dan presentasi oral bagi para dokter, teknisi pelayanan darah, serta analis kesehatan. Sebanyak 37 makalah penelitian dipresentasikan tahun ini, meningkat drastis dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
Sebagai penutup rangkaian hari kedua, digelar symposium dinner yang memadukan sajian pengetahuan, kebersamaan, dan hiburan dari penyanyi Angie Carvalho. Kombinasi sajian ilmu, kebersamaan, serta seni ini ditujukan untuk mempererat tali silaturahmi antar-pemangku kepentingan pelayanan darah di seluruh Indonesia.
"Di balik acara ini ada puluhan tangan yang bekerja. Segenap panitia mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada hal-hal yang kurang berkenan, semoga tidak pernah mengurangi semangat kita dalam melayani dan belajar. Semoga kegiatan ini membawa komitmen baru untuk membentuk masa depan pelayanan darah di Indonesia yang lebih baik. Setetes Darah, Sejuta Harapan. Setetes Ilmu, Sejuta Perubahan," tutup dr. Kadek Mulyantari. (M-001)









