Hanoman menyadari bahwa itu adalah bencana, dengan penuh penyesalan dan merasa diri tidak layak menjadi utusan sehingga ia ingin mengakhiri hidupnya. Hal itu diketahui oleh seekor burung besar yaitu kakak Sang Jatayu yang bernama Sang Sampati. Hanoman dan wanara diberi pertolongan serta petunjuk menuju arah Alengka. Dengan kejadian itu Sang Hanoman mengambil inisiatif untuk berangkat sendiri menyeberangi Samudra menuju Alengka, sedangkan pasukannya agar menunggu di Gunung Windya.
Hanoman segera menyelinap untuk mencari keberadaan Dewi shita. Tanpa disadari, ia mendengar suara tangis wanita yang berada di sebuah taman. Dari balik pohon Parijata, Hanoman melihat tingkah Sang Rahwana sedang merayu Dewi Shita. Ketika Rahwana sudah pergi, kesempatan itu sangat baik baginya untuk bertemu sang Dewi. Setelah Dewi Shita tahu bahwa utusan Sang Rama datang benar-benar memberikan semangat hidup yang baru kepada Sang Dewi.
Hanoman menghancurkan Taman Alengka pura, suasana kacau balau, raksasa penjaga semua datang untuk berperang menghadapi Hanoman yang sedang mengobrak-abrik pepohonan dan bangunan . Para raksasa dapat dikalahkan termasuk Sang Aksa anak Sang Rahwana gugur dalam pertempuran itu. Termasuk Sang Meganada anak Rahwana yang lain, segera datang dengan senjata nagapasa berperang menghadapi Hanoman. Dalam perang tersebut Hanoman terkena panah Sang Meganada sehingga Hanoman jatuh dan di belit oleh naga dari ajian nagapasa tersebut.
Hanoman disiksa dan diseret oleh para raksasa dibawa ke hadapan Rahwana. Namun eor Hanoman disulut dengan api, semakin lma semakin berkobar, hanoman bangkit dan melompat dengan api yang menyala dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain. Nampak kerajaan Alengka bagaikan gunung yang terbakar. Setelah Alengkapura hangus terbakar, Hanoman mohon diri kepada Dewi Shita untuk kembali bertemu dengan Sang Rama Dewa.










