Minikino Film Week 12 Siap Digelar di Bali, Libatkan 60 Negara

IMG_3052
Press Conference Minikino Film Week 12 di Denpasar. (FB/Dartha)

DENPASAR-fajarbali.com | Di tengah ketegangan geopolitik dan krisis kemanusiaan global, festival film pendek internasional tahunan Minikino Film Week 12 (MFW12) bersiap digelar pada 11–18 September 2026. Digagas oleh Yayasan Kino Media, perhelatan edisi ke-12 ini memusatkan kegiatannya di Kota Denpasar serta sejumlah titik di Bali. MFW12 tidak hanya hadir sebagai ajang perayaan sinema, melainkan juga ikhtiar kolektif untuk membangun empati, meruntuhkan isolasi antar subjek, dan memperkuat ekosistem film pendek nasional dari akar rumput.

Direktur Program MFW12, Fransiska Prihadi mengatakan, edisi tahun ini membawa penyegaran kuratorial serta pendekatan yang lebih intim di balik layarnya. MFW12 menjaring 1.454 pendaftaran film dari berbagai belahan dunia, hingga menetapkan 122 judul sebagai Official Selection yang mewakili 60 negara.

“Secara keseluruhan, festival ini memproyeksikan 201 judul film pendek yang terbagi ke dalam 42 program penayangan termasuk program pertukaran Indonesia Raja 2026, jaringan The Southeast Asia Networks, tiga program tamu, serta karya pilihan dari kompetisi Begadang 10 Tahun,” jelasnya seraya menyebutkan bahwa secara statistik, penayangan MFW12 didominasi oleh genre fiksi sebesar 59,46%, disusul animasi (20,27%), dokumenter (9,91%), eksperimental (8,11%), dan dokufiksi (2,25%).

Direktur Festival MFW12, Edo Wulia, menegaskan pentingnya medium ini dalam menembus sekat sosial. "Kami percaya film pendek berfungsi sebagai jendela yang esensial. Gambar bisa menembus isolasi yang kita bangun di dalam diri kita sendiri. Film-film ini tidak menjanjikan jawaban yang mudah, tetapi menawarkan kesadaran bahwa manusia adalah setara dengan kelebihan dan kekurangannya, dan kapasitas kita untuk berharap pada nilai kebaikan,” ujarnya.

Keberlanjutan festival ditopang oleh pilar eksibisi, industri, pendidikan, dan kompetisi. Penayangan utama berpusat di MASH Denpasar Art House Cinema, RTB-Rumah Tanjung Bungkak, dan Dharma Negara Alaya (DNA). Selain itu, program Community Screenings diaktifkan di wilayah seperti Buleleng, Singaraja, dan Lovina. Aksesibilitas juga diperluas melalui pemutaran Sinema Inklusif yang dilengkapi deskripsi audio (Audio Description) dan takarir khusus gangguan pendengaran (SDH) ber-bahasa Indonesia.

BACA JUGA:  Dari Ruang Operasi ke Panggung Musik, Kisah Inspiratif Dokter Putu dan Melodi "Rindu"

Pada pilar industri dan edukasi, MFW12 menggelar 8th Short Film Market yang memfasilitasi 25 kegiatan pasar film, pitching forum, hingga sesi berjejaring Speed Dates. Divisi MFW Education turut mendukung literasi media lewat program Short Films for Schools dan proyek ko-produksi animasi stop-motion internasional KORINCO (Korea-Indonesia-Colombia) tahun ke-4, yang melibatkan siswa SDN 5 Dauh Puri, Denpasar, untuk berkolaborasi membuat karya bersama rekan sebaya dari mancanegara.

Sektor kompetisi menjadi wadah inkubasi yang memacu kreativitas sineas. Tahun ini, kompetisi pembuatan film 34 jam Begadang 10 Tahun meluluskan 31 kelompok dari 50 peserta seluruh Indonesia, dengan sepuluh karya terbaik diputar perdana di MFW12. Penilaian kategori utama dikawal oleh Dewan Juri Internasional yang terdiri dari Gie Sanjaya, Mélissa Bouchard (Kanada), dan Patrick Campos (Filipina), serta Deru Ibnu Ghifari sebagai Juri Kehormatan Begadang. Regenerasi juga diperkuat melalui Youth Jury Board 2026 yang diisi alumni program magang penulisan 2025.

Fransiska menambahkan, nilai humanis festival ini tercermin kuat dari kehangatan tim pendukung dan relawan yang menggerakkan operasional harian MFW12. Ia menggarisbawahi pentingnya rasa saling percaya dalam proses kerja tim. "Sifat film pendek yang sangat personal dan intim itu hanya bisa dihadirkan jika orang-orang yang mengerjakannya juga bekerja dengan rasa saling percaya. Kerja tim inilah yang menjadikan MFW12 bukan sekadar ajang selebrasi film, tetapi sebuah ruang perjumpaan yang humanis," tuturnya.

Pendekatan egaliter dan keterlibatan komunitas akar rumput tetap menjadi jiwa utama penyelenggaraan Minikino sejak awal berdiri. Traveling Cinema Director sekaligus Ketua Yayasan Kino Media, I Made Suarbawa, menyampaikan pesan penutup terkait akar sejarah festival ini. "Dengan pop-up cinema yang bergerak ke desa-desa di seluruh Bali selama bertahun-tahun, kami percaya pada kekuatan film pendek untuk memperkuat rasa kebersamaan di dalam komunitas dan masyarakat luas. Minikino sejak awal digerakkan oleh sukarelawan (Volunteer). Rasa antusias pada film pendek dan gairah berjejaring inilah yang menjadi nafas MFW sehingga terasa akrab dan egaliter,” ucapnya. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top