Sehingga lintas sektor diharapkan dapat memperkuat komitmen dan memaksimalkan kinerja untuk menjalankan program percepatan penurunan stunting.
“Melalui sharing dan diskusi di forum ini mari kita memperkuan komitmen hingga dapat mencapai target penurunan stunting di angka 8,3 persen pada tahun 2024," ajak dia.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali dr. Ni Luh Gede Sukardiasih yang turut hadir secara daring mengatakan harapannya untuk kegiatan minilokakarya terus dilakukan secara rutin dengan kontribusi peserta secara aktif sehingga dapat menemukan strategi baru untuk mempercepat penurunan stunting di Jembrana secara umum
“Kita tahu bahwa saat ini Kabupaten jembrana merupakan kabupaten dengan pravelensi stunting tertinggi di Provinsi Bali yaitu 14,2 persen jika diliat dari tahun lalu sebenarnya terjadi penurunan namun sangat kecil dibandingkan kabupaten lain sehingga ini perlu diperhatikan,” imbau dr. Luh De.
Pada kesempatan tersebut, dr. Luh De mengajak peserta Minilokarkarya untuk mensosialisasikan pengolahaan pangan lokal sebagai makanan untuk menunjang pemenuhan gizi pada anak maupun remaja.
“Jembrana terkenal dengan ikannya, mungkin ini bisa dimanfaatkan untuk disosialisasikan sebagai makanan inti dan bergizi,” jelasnya.
Selain Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Kegiatan ini juga dihadiri secara daring oleh Ketua Pokja Mekanisme Operasional dan Konversi Program Lini Lapangan BKKBN RI Ridwan Fadjri Nur.
“Saya berterima kasih kepada kecamatan, kapolsek dan danramil dalam komitmennya menurunkan angka stunting melalui minilokakarya yang dilaksanakan secara rutin," ungkap Fadjri.










