Menjemput Upeksa

IMG-20260106-WA0008
Dr.A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda.

Di bawah naungan beringin tua yang akarnya menghujam bumi sebuah pura, seorang pemuda tampak khusyuk menghaturkan canang sari. Asap dupa mengepul, membawa doa-doa ke angkasa di tengah riuhnya suara mesin ekskavator yang sedang mengeruk bukit di kejauhan untuk proyek resor mewah.

Di sana, persembahan dilakukan dengan rapi, namun di saat yang sama, hutan yang dianggap suci sedang meregang nyawa. Potret ini adalah cermin retak Indonesia di ambang 2026.

Kita melihat manusia-manusia yang rajin ber-Upakara, namun abai pada etika. Kita melihat kerumunan yang fasih merapalkan mantra, namun tangannya sibuk mengetik caci maki di layar ponsel.

Sebagai praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang bergelut dengan pengembangan karakter, saya melihat ada "salah urus" dalam jiwa bangsa kita. Kita sedang mengalami krisis kesadaran kolektif yang akut, di mana ritual hanya menjadi kosmetik, sementara ruhnya telah lama mati.

Mencintai Agama, Melupakan Tuhan:

Paradoks Kesalehan Visual Catatan pertama dan yang paling fundamental dalam refleksi 2026 ini adalah fenomena "mencintai agama namun melupakan Tuhan." Sebagai praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), saya melihat gejala ini sebagai sebuah patologi organisasi dalam skala kebangsaan.

Dalam dunia korporasi, kita sering menjumpai karyawan yang sangat patuh secara administratif—mereka datang tepat waktu, mengisi laporan kegiatan dengan rapi, dan mengejar Key Performance Indicator (KPI) dengan agresif.

Namun, jika ditelaah lebih dalam, mereka kehilangan visi besar perusahaan. Mereka bekerja tanpa ruh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban prosedural.
Kondisi bangsa kita di tahun 2026 tidak jauh berbeda.

Kita sedang mengalami fase di mana agama telah direduksi menjadi sekadar "prosedur operasional standar" (SOP) sosial. Banyak dari kita, termasuk umat
Hindu, terjebak dalam pemujaan simbol yang bersifat lahiriah.

Kita sangat mencintai agama sebagai
identitas politik, sebagai kebanggaan kelompok, dan sebagai warisan tradisi yang harus dipertahankan secara defensif. Namun, dalam keriuhan menjaga identitas itu, kita justru sering kehilangan Tuhan yang seharusnya menjadi pusat dari kesadaran tersebut.

BACA JUGA:  Warga Subak Diedukasi Cara Panen Air, Cocok Diterapkan di Tempat Lain

Bayangkan megahnya upacara-upacara keagamaan yang kita gelar. Banten yang bertumpuk menjulang, barisan parade yang memukau mata dunia, hingga renovasi pura yang menghabiskan dana miliaran rupiah.

Semua itu adalah bentuk persembahan yang mulia jika didasari oleh ketulusan. Namun, audit kritis kita harus berani bertanya: di mana nilai-nilai Ketuhanan seperti kejujuran (Satya), kasih sayang (Ahimsa), dan keadilan (Dharma) diletakkan dalam keseharian? Seringkali, nilai-nilai substansial ini justru
terpinggirkan oleh ego sektarian.

Banyak catatan sosiologis menunjukkan bahwa kecintaan yang berlebihan pada agama sebagai "institusi" seringkali bermutasi menjadi fanatisme buta. Fanatisme inilah yang menciptakan sekat tebal antara "kita" dan "mereka".

Atas nama membela agama, manusia merasa berhak untuk merendahkan,
membenci, bahkan menghancurkan sesamanya. Ini adalah paradoks terbesar: bagaimana mungkin seseorang merasa sedang melayani Tuhan yang Maha Pengasih, namun di saat yang sama ia menebar kebencian di media sosial atau memutus tali silaturahmi hanya karena perbedaan pilihan?

Dalam perspektif MSDM, ini adalah bentuk kegagalan "budaya organisasi" yang fatal. Ketika simbol lebih diutamakan daripada substansi, maka integritas akan runtuh. Ketuhanan sebenarnya bukan sekadar soal seberapa sering kita melangkah ke pura, masjid, gereja, atau wihara.

Ketuhanan bukan tentang berapa banyak atribut suci yang menempel di tubuh kita atau seberapa fasih kita merapalkan doa-doa panjang dalam bahasa kuno. Ketuhanan adalah tentang bagaimana kehadiran Sang Pencipta tercermin dalamperilaku nyata saat kita keluar dari tempat ibadah.

Jika kita mengaku beragama namun tangan kita masih lincah memanipulasi angka dalam anggaran kantor (korupsi), jika mulut kita masih gemar menyebarkan hoaks yang menghancurkan reputasi orang lain, atau jika kebijakan kita sebagai pemimpin justru menindas mereka yang lemah, maka kita sebenarnya sedang melakukan kebohongan publik yang kolosal. Kita hanya sedang mencintai "baju" agama kita.

Kita mencintai kenyamanan sosial yang diberikan oleh identitas agama, namun kita menolak tunduk pada otoritas moral Tuhan yang ada di dalamnya. Jika agama hanya digunakan sebagai alat untuk memuaskan narsisme kelompok, maka ia telah kehilangan fungsi utamanya sebagai pembebas jiwa.

BACA JUGA:  Terkait Izin, Manajemen Karaoke 888 KTV Dipanggil Satpol PP

Kita harus kembali pada kesadaran bahwa Tuhan tidak tinggal di dalam megahnya bangunan atau rumitnya upacara jika di sana tidak ada cinta kasih dan kejujuran.

Kesadaran bangsa ini hanya bisa dirawat jika kita berani melepaskan keterikatan pada ego agama dan mulai memeluk kembali hakikat Ketuhanan yang universal.

Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bangsa yang saleh secara visual, namun keropos secara moral—sebuah organisasi besar yang tampak megah dari luar, namun sebenarnya sedang menuju kebangkrutan nurani.

Antarmanusia: Kejahatan di Balik Topeng Kebersamaan Poin kedua adalah degradasi hubungan antarmanusia. Di dunia organisasi, kunci keberhasilan adalah
kolaborasi dan empati. Namun, realita sosial kita menunjukkan sebaliknya.

Kejahatan kemanusiaan kini
tidak selalu berupa kekerasan fisik, melainkan "kanibalisme" karakter.
Kecemburuan sosial, kebencian berbasis SARA, dan hilangnya rasa hormat terhadap martabat manusia menjadi mata uang sehari-hari.

Kita menjadi bangsa yang mudah tersinggung namun sulit merasa
bersalah. Kejahatan antarmanusia terjadi saat kita berhenti melihat orang lain sebagai percikan cahaya Tuhan (Atman) yang sama dengan kita. Tanpa kesadaran ini, masyarakat hanya menjadi kumpulan
individu yang saling sikut demi kepentingan sesaat, menciptakan lingkungan yang beracun (toxic
environment) bagi pertumbuhan generasi mendatang.

Pemerkosaan Alam

Catatan ketiga yang paling krusial adalah hubungan kita dengan alam. Dalam konsep Tri Hita Karana, keseimbangan dengan alam (Palemahan) adalah harga mati. Namun, yang kita saksikan hingga 2026
adalah "pemerkosaan alam" secara sistematis atas nama pembangunan dan profit.

Hutan dibabat, pesisir direklamasi tanpa kajian mendalam, dan limbah dibuang seolah bumi memiliki daya serap tanpa batas. Kita sering melakukan upacara untuk memuja alam, namun tangan kita tetap merusaknya. Ini adalah kemunafikan ekologis. Alam tidak butuh sekadar sesaji; alam butuh perlindungan nyata.

BACA JUGA:  1

Pemerkosaan alam ini bukan hanya merusak ekosistem, tapi juga menghancurkan masa depan kemanusiaan itu sendiri. Kita sedang meminjam oksigen dan air dari anak cucu kita, namun kita mengembalikannya dalam bentuk polusi dan bencana.

Upeksa: Menjemput Keseimbangan yang Hilang

Untuk mengatasi krisis ini, kita harus kembali pada prinsip Upeksa. Dalam ajaran kebijaksanaan, Upeksa adalah puncak dari Catur Paramita, sebuah sikap keseimbangan batin yang tidak tergoyahkan oleh dualitas dunia (suka-duka, untung-rugi).

Upeksa bukan berarti apatis atau tidak peduli. Sebaliknya, ia adalah kesadaran tinggi untuk bertindak secara seimbang. Dalam konteks kebangsaan 2026: Keseimbangan Spiritual: Menyeimbangkan antara ritual eksternal dengan transformasi internal.

Keseimbangan Sosial: Menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kesejahteraan bersama.

Keseimbangan Ekologis: Menyeimbangkan pemanfaatan alam dengan upaya konservasi yang radikal. Tahun 2026 harus menjadi momentum "Audit Kesadaran". Sebagai praktisi yang mengelola manusia,
saya meyakini bahwa SDM unggul bukan hanya mereka yang mahir teknologi, melainkan mereka yang memiliki kesadaran utuh.

Bangsa yang hanya sibuk dengan urusan agama tanpa melibatkan Tuhan akan menjadi bangsa yang keras hati. Bangsa yang hanya mengejar kemajuan materi dengan memperkosa alam akan menjadi
bangsa yang kehilangan rumah.

Mari kita kembali pada esensi: mencintai Tuhan melalui cinta pada sesama dan penjagaan pada alam. Merawat kesadaran adalah satu-satunya jalan agar Indonesia tidak hanya sekadar nama dalam buku
sejarah, tetapi sebuah peradaban yang tetap hidup, bernapas, dan diberkati.

Penulis: Dr. AAN. Eddy Supriyadinata Gorda. (Akademisi Undiknas)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top