Ketua Komunitas Kawiya Bali, I Putu 'Leong' Suryadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal menjalin kerja sama lebih intens dengan pemerintah daerah, sekaligus membuka peluang penggalian potensi sastra di desa-desa.
“Kami berharap bisa berkontribusi melalui festival, kajian, maupun pemberitaan, serta melibatkan masyarakat luas,” katanya.
Kabid Sejarah Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Ni Nyoman Indrawati, yang turut hadir memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. “Diskusi ini juga membuka wawasan baru bahwa ternyata ada sosok sastrawan besar dari Badung yang selama ini kurang mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia berharap ke depan, Kawiya Bali dapat terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menyebarluaskan informasi, tidak hanya lewat media tulis, tetapi juga sebagai media sosialisasi budaya. “Kami bangga bisa menyambut komunitas Kawiya Bali sebagai mitra strategis,” imbuhnya.
Diskusi ini sekaligus menghasilkan kesepahaman bahwa perlu ada langkah nyata untuk mengawal program dokumentasi karya dan sosok Rasta Sindhu.
Dengan demikian, jejaknya tidak hanya dikenang, tetapi juga dapat menjadi bahan kajian akademis maupun inspirasi bagi sastrawan muda Bali.
Dalam kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Kawiya Bali dengan UPMI Bali. Beberapa akademisi UPMI yang hadir, turut menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya diskusi oleh Kawiya Bali, dan diharapkan kegiatan ini terus berkesinambungan.
Kawiya dan FBS UPMI memiliki komitmen yang sama dalam menggali nilai-nilai budaya Bali.










