Mengais Puing-puing Jejak Sang Maestro 

IMG-20250831-WA0002
Diskusi bertajuk “Membaca Rasta Sindhu: Mengenang 82 Tahun Sastrawan Bali” oleh Kawiya dan FBS UPMI Bali.

“Pada tahun 1969, ia memenangkan Hadiah Sastra Horison lewat cerpen Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar. Sayang, usianya begitu singkat. Rasta Sindhu meninggal dunia pada 1972, ketika baru berumur 29 tahun,” ujarnya.

Minimnya dokumentasi menjadi salah satu persoalan utama ketika membicarakan kembali sosok Rasta Sindhu. Banyak karyanya tersebar di majalah sastra, surat kabar, hingga kliping lama yang kini sulit dilacak.

Dalam paparannya, Sujaya mengungkapkan bahwa sumber dokumentasi mengenai karya-karya Rasta Sindhu masih sangat terbatas.

“Ada catatan yang menyebutkan beliau menulis hingga 85 cerpen antara 1964–1972, juga sekitar 250 puisi. Namun yang berhasil saya temukan hanya 18 cerpen. Itu pun sudah cukup representatif, meski jelas masih banyak yang hilang,” ujarnya.

Sujaya menekankan pentingnya upaya sistematis untuk mendokumentasikan karya maupun profil Rasta Sindhu, baik dalam bentuk buku maupun audiovisual. “Ini bukan hanya soal dokumentasi karya sastra, tetapi juga bagian dari sejarah kebudayaan Bali,” tambahnya.

Rasta Sindhu, kata Supaya, adalah sastrawan fenomenal yang menulis dalam tekanan hidup namun menghasilkan karya-karya yang kuat. Rasta Sindhu adalah contoh nyata penulis yang hidup dari tulisan.

Meski wafat muda pada usia 29 tahun, Rasta Sindhu dikenang sebagai penulis yang berani, tajam, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyoroti konflik sosial, menyinggung adat, bahkan mengkritik tahayul yang masih kuat dalam masyarakat Bali.

Karya-karyanya banyak mengangkat lokalitas Bali sekaligus kritik sosial, menjadikannya salah satu pionir dalam mengawinkan tradisi dengan realitas modern. “Ia sudah mengangkat lokalitas Bali ke dalam sastra jauh sebelum ramai dibicarakan tahun 1980-an,” ucap Sujaya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top