Ketua panitia acara, Dewa Gede Bayu Segara, menambahkan, Dharma Sadhana yang ke-2 ini merupakan lanjutan dari Dharma Sadhana 1 yang telah di lakukan beberapa bulan lalu di kecamatan Tejakula, mengingat kegiatan ini dilakukan setiap 3 bulan sekali.
Menurut Bayu, makna filosofis kegiatan ini dibahas tuntas dalam dharma wacana singkat oleh salah satu penyuluh Agama I Kadek Satria, S.Ag. M.Pd.H. Tema kegiatan ini yaitu memuja dengan memuliakan mengandung makna yang sangat dalam.
Dimana agama bukan hanya dilakukan dengan perilaku memuja Tuhan di tempat suci, dengan sarana bunga dan bebantenan yang suci, tetapi memuliakan Tuhan yang bersthana pada setiap mahluk ciptaan-Nya.
“Beliau Sang Maha Penghidup ada pada setiap ciptaan-Nya. Beliau memberikan hidup dan menyaksikan kita sebagai umat. Artinya apabila kita memuliakan ciptaan beliau yang mungkin sangat terbatas dengan gerak hidup seperti orang yang menyandang disabilitas, mereka yang terbatas kemampuannya karena usia dan mereka yang sedang dalam keadaan mengandung,” bebernya.

“Bahwa pada diri merekalah Tuhan disthanakan dan dipuja baik dan dengan ketulusan. Maka jika kita membantu dan mengembangkan mereka maka Tuhan sebagai penciptanya sudah barang tentu akan tersenyum penuh kasih,” imbuhnya.
Artinya dengan konsep memuliakan ini, bukan saja beragama dengan bacaan, beragama dengan teori atau ruang diskusi, tetapi kita ada dalam prilaku yang mulia untuk memuliakan Tuhan.
Pemuliaan ini tujuannya juga adalah persembahan atau pemujaan dengan perilaku nyata, bukan hanya berangan menjadi insan beragama tetapi abai dengan pemuliaan berbagai ciptaannya.










