Membudayakan Screening Pra Nikah, Opsi Cegah Stunting di Bali

7C76BFC7-3E5F-4669-83CC-CEB27F34A840-9aa350ab


Direktur Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) BKKBN Eka Sulistia Ediningsih mengajak ibu-ibu yang hadir memanfaatkan akun media sosial masing-masing untuk mengampanyekan pentingnya pencegahan stunting.

Meski Bali, menurut Eka, prevalensi stuntingnya jauh di bawah rerata nasional, bukan berarti masyarakat Bali boleh lengah. "Upaya antisipasi harus tetap ada bila perlu sampai zero kasus," kata Eka sembari berterima kasih kepada Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana yang sangat komit turun ke masyarakat.

Sementara Kariyasa Adnyana mengungkapkan, membaiknya sektor pariwisata pascapandemi Covid-19 mesti disyukuri masyarakat Bali. Salah satu caranya dengan menjaga kualitas kesehatan.

Sebab, kata Kariyasa, pariwisata sangat tergantung dengan isu-isu sensitif seperti kesehatan. Jika masyarakat Bali sudah sehat, tidak ada stunting, maka menjadi bahan promosi yang baik untuk menarik kunjungan wisatawan.

"Makanya orang Bali itu harus sehat-sehat. Jangan sampai stunting. Selain merugikan pariwisata, penderita stunting akan menjadi beban negara. Kalau jumlahnya banyak bahkan bisa menggangu stabilitas perekonomian nasional," tegasnya.

Sebelumnya Plt. Perbekel (Kepala Desa) Dencarik Ida Kade Swastika, mengaku di wilayahnya masih terdapat beberapa kasus balita gizi buruk. Dengan adanya kampanye ini, ia berharap persoalan itu bisa diatasi secara gotong royong dan mencegah kasus serupa muncul di kemudian hari.

Dia mengakui, pencegahan stunting merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Desa Dencarik, dibuktikan dengan posyandu balita dan remaja, pemberian makanan tambahan bagi balita, kelas ibu hamil, makanan tambahan siswa TK/PAUD, pemenuhan air bersih dan sanitasi masyarakat.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top