Para peserta nantinya akan merasakan sensasi unik yang tidak ditemukan di tempat lain. Mereka akan berlari dengan latar belakang udara sejuk khas pegunungan dan panorama hamparan sawah terasering yang ikonik. Konsep ini diharapkan mampu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sambil berolahraga.
Manager Manajemen Operasional DTW Jatiluwih, John Ketut Purna, mengungkapkan rasa bangga dan antusiasmenya atas kolaborasi besar ini. Menurutnya, festival tahun ini adalah batu loncatan besar bagi penataan pariwisata Jatiluwih ke depan. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti penataan pariwisata yang kian matang.
"Jatiluwih Festival VII bukan sekadar selebrasi budaya, melainkan simbol kebangkitan pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Masuknya festival ini ke dalam KEN Kemenpar serta kolaborasi bersama ASITA melalui Run 5K adalah bukti nyata bahwa alam, olahraga, dan budaya bisa berjalan beriringan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat," ujar John Ketut Purna.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran ribuan pelari akan memberikan dampak efek berganda (multiplier effect) bagi ekosistem pariwisata lokal. Dampak positif ini mencakup peningkatan keterisian akomodasi seperti homestay, geliat warung-warung lokal, hingga pengenalan produk pertanian unggulan. Produk andalan Jatiluwih yang akan ditonjolkan antara lain beras merah dan kopi autentik.
Selain ajang lari yang memacu adrenalin, pengunjung festival selama dua hari penuh akan disuguhkan berbagai kegiatan edukatif dan kultural. Di antaranya adalah pertunjukan seni tradisional Bali di alam terbuka, pameran produk UMKM Tabanan, hingga edukasi sistem pertanian subak. Pihak panitia kini telah membuka pendaftaran Run 5K secara daring bagi masyarakat umum yang ingin berpartisipasi. (M-001)










