Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam atas perhatian luas dari media internasional tersebut. Ia menilai bahwa apresiasi dunia internasional ini pada hakikatnya merupakan bentuk penghormatan tertinggi bagi keteguhan masyarakat adat yang selama ratusan tahun konsisten merawat warisan leluhur.
"Bagi kami, masuknya Desa Penglipuran dalam daftar 53 desa dan kota kecil terindah di dunia versi Condé Nast Traveller merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan. Namun, yang lebih penting, pengakuan ini merupakan penghargaan terhadap masyarakat Desa Adat Penglipuran yang selama ratusan tahun menjaga warisan leluhur, mempertahankan arsitektur tradisional, melestarikan hutan bambu, serta menjadikan kebersihan dan keharmonisan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari," ujar Wayan Sumiarsa.
Keberhasilan mempertahankan daya tarik autentik tersebut bersumber dari penerapan filosofi hidup Tri Hita Karana yang berporos pada tiga prinsip keharmonisan hubungan. Nilai-nilai luhur ini menuntun warga untuk senantiasa menjaga hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta secara seimbang.
"Keindahan Penglipuran bukanlah sesuatu yang diciptakan hanya untuk kepentingan pariwisata. Keindahan ini tumbuh dari budaya dan cara hidup masyarakat kami. Pariwisata hadir kemudian, dan menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan bahwa perkembangan pariwisata tidak menghilangkan jati diri desa," tambahnya.









