Di balik sejuta prestasi yang berhasil diraih, ada jatuh bangun prosesnya yang sangat inspiratif. Ceritanya, proses yang ia lewati tidaklah mudah untuk sampai di titik ini. Lelah, kalah, susah, tidak menjadi alasan untuk akhirnya menyerah.
“Proses yang saya lalui sangat panjang. Pada dasarnya, saya bukanlah orang yang ‘berbakat’ di bidang olahraga, olahraga apapun itu. Sebagai orang yang kurang dalam olahraga, tentu saja diperlukan effort (usaha) dua kali lipat lebih besar dari orang yang memang ‘into’ di olahraga hanya untuk mencapai kata ‘bisa’ belum ‘pintar’nya. Seperti contoh ketika saya masuk tim perisai diri Udayana, segala hal yang diminta pelatih saya lakukan tetapi dalam progres yang sedikit lambat dari rekan-rekan saya yang lain, tetapi tetap penuh keyakinan ‘sampai’ di tujuan”, tegasnya.
Sekalipun demikian, Desak tetap terus meyakinkan dirinya, begitu juga meyakinkan seluruh teman-teman civitas akademika Universitas Udayana untuk selalu menumbuhkan rasa pantang menyerah di dalam diri sehingga akan membentuk karakter yang kuat untuk dapat mendulang prestasi.
“Lelah? Pasti. Kadang pula ada rasa ingin menyerah, mengundurkan diri dari tim, insecure kenapa proses saya lambat sekali, kenapa tidak bisa-bisa. Tapi saya tetap bertahan dan syukurnya semua itu membuahkan hasil, perlahan-lahan, dan Astungkara akan terus meningkat,” paparnya.
Diselipkan pula, dalam setiap perjalanannya, ada figur-figur yang telah berjasa dan selalu ada dalam setiap cerita perjuangannya. Mulai dari ayah atau yang akrab disapanya ajik, ibu, adik-adiknya, keluarga besar, pelatih-pelatih di UKM, Bli Mang Andi, Pak Giri, Bli Angga, Mbok Iluh, Pak Rahde, Pak Gungtra dan semua pelatih Perisai Diri.










