Secara estetik, Oka memperkenalkan langgam baru bernama "Mistisisme-Domestik" yang mengawinkan diksi arkaik magis dengan kenyataan ruang domestik yang brutal. Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga dengan anyir darah, bau ompol, dan tubuh yang menua. Tak hanya itu, Oka menerapkan strategi dekonstruktif berupa penggunaan huruf nonkapital (all-lowercase) secara menyeluruh untuk memberi ruang bagi aliran kesadaran (stream of consciousness) yang jujur dan demokratis. Tubuh penyintas diubah menjadi ekosistem makna yang menyimpan jejak sejarah, sekaligus meruntuhkan logosentrisme serta hierarki bahasa yang kaku dalam sastra.
Buku ini menjadi bentuk gugatan terbuka terhadap absennya negara dalam menyelesaikan trauma sejarah masa lalu. "Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah," tegas Oka Rusmini. Penulisan karya ini disebutnya sebagai ritual ziarah intelektual yang menguras batin, bertujuan untuk merebut kembali kedaulatan memori para korban yang selama puluhan tahun disenyapkan oleh narasi tunggal penguasa.
Judul Kembang hadir sebagai metafora ironis; sesuatu yang identik dengan kelembutan bertransformasi menjadi simbol ketangguhan perempuan yang tetap tumbuh di atas retakan sejarah. Pada akhirnya, Kembang bukan sekadar karya sastra, melainkan instrumen keadilan dan sarana rekonsiliasi kultural. Di tengah buntu atau lambatnya penegakan hukum formal, karya monumental ini berhasil mengusik zona nyaman masyarakat, merawat luka sejarah, dan mengembalikan martabat kemanusiaan para penyintas 1965 di masa senja mereka secara utuh dan terhormat. (M-001)










