Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas budaya Bali di tengah tantangan zaman. Wisandika menekankan bahwa pelestarian Bahasa Bali bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga sekolah dan keluarga.
“Kita tidak ingin Bulan Bahasa Bali hanya seremonial. Penguatan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali harus dimulai dari sekolah dan keluarga. Sudah ada regulasi yang menguatkan, tinggal bagaimana kita konsisten menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Ia berharap, dari tahun ke tahun kualitas dan partisipasi peserta semakin meningkat. Melalui lomba ini, generasi muda tidak hanya diasah kemampuannya, tetapi juga ditanamkan nilai sportivitas, kebanggaan terhadap budaya sendiri, serta semangat untuk terus menggali dan mengembangkan warisan leluhur Bali.
“Dengan semangat kolaborasi dan komitmen bersama, Kabupaten Buleleng optimistis Bahasa Bali akan terus hidup, berkembang, dan menjadi jati diri yang membanggakan bagi generasi sekarang dan mendatang," tutupnya. @gus










