Sementara itu, Koordinator tim Pelatih Nyurat Lontar, I Ketut Sudarsana, mengatakan, kegiatan ini merupakan program dari dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, yang tahun ini digelar di 3 sekolah di Badung. Kegiatan Nyurat Lontar ini, kata Sudarsana yang juga Bendesa Adat Kapal ini, merupakan upaya untuk melestarikan warisan budaya leluhur. Selain itu, ini juga berkaitan dengan nuansa adat dan budaya yang sangat penting dalam penegakan, mengajegkan dan mempertahankan keberadaan Hindu di Bali. Hal itu menurutnya karena aksara-aksara Bali yang ditulis di dalam daun lontar, itu banyak memuat tentang ajaran ajaran hindu. Termasuk juga tentang etika-etika ajaran budi pekerti, serta ajaran-ajaran nilai-nilai budaya.
"Dengan demikian pengembangan aksara Bali kedepan, sangat penting sekali dilestarikan. Karena semua ajaran ajaran kehinduan yang ada di Bali khususnya, itu tersurat di dalam daun lontar. Kalau ini tidak biisa dilestarikan. berarti naskah-naskah kuno yang ada di masing-masing masyarakat, nantinya akan menjadi barang yang tidak bermanfaat," ucapnya, Kamis (13/7).
Dengan kegiatan ini, pihaknya sanat sependapat dengan upaya dari pemerintah yang dijembatani oleh dinas Kebudayaan Badung, untuk melakukan langkah-langkah antisipasi. Terutama agar keberaksaraan di Bali itu tetap bisa dipertahankan, demi mengajegkan, mempertahankan nilai nilai budaya yang ada.
Untuk tiga sekolah yang ditunjuk menggelar pelatihan ini yakni, SMPN 5 Abiansemal, SMPN 2 Kuta Utara, dan SMPN 2 Abiansemal. Untuk jumlah peserta dari masing-masing sekolah, diwakili oleh sebanyak 40 orang. Semua fasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan ini, disediakan oleh dinas kebudayaan.










