Untuk panggangan sate dan ayam multifungsi, dibuat dalam berbagai ukuran—50 sentimeter, 80 sentimeter, hingga satu meter—dan dilengkapi dengan sistem pengatur bara api yang bisa dinaik-turunkan tanpa harus mengangkat panggangan. “Idenya mengalir begitu saja,” ujarnya.
Untuk proses pengerjaan, satu produk memakan waktu rata-rata dua hari setelah peralatan lengkap. Desain disesuaikan dengan kemauan konsumen.
Harganya pun bervariasi. Mesin berkapasitas 100 kilogram dengan tenaga 700 watt dibanderol Rp950 ribu, sementara kapasitas 50 kilogram seharga Rp650 ribu. “Kalau pembeli bawa mesin sendiri, saya hanya bantu merakit. Jadi biayanya lebih murah,” katanya.
Pesanan datang dari berbagai daerah, mulai Karangasem, Badung, Tabanan, hingga Buleleng. Menurut Sutaba, produk buatannya punya keunggulan dibanding mesin sejenis: bentuknya ringkas, efisien, tak memakan banyak tempat, dan tidak menimbulkan suara bising. “Yang penting sederhana tapi fungsional,” imbuh pria 11 bersaudara itu.
Keterampilannya merakit mesin bukan datang begitu saja. Saat masih bersekolah di SMKI jurusan tari—kini dikenal sebagai Kokar—Sutaba juga menempuh pendidikan di STM Nasional jurusan mesin umum.
Dari sanalah dasar pengetahuannya tentang permesinan tumbuh. “Dulu belajar tari, tapi di sisi lain saya suka membongkar mesin. Sekarang dua-duanya jadi bagian hidup saya,” ujarnya.
Kini, bengkel kecil di halaman rumahnya ia sebut sebagai “laboratorium pribadi”. Dari tempat itu pula lahir berbagai alat rumah tangga sederhana seperti troli, rangka kanopi, hingga tenda. Semua dibuat berdasarkan kebutuhan sehari-hari.










