AMLAPURA-fajarbali.com | Belasan tahun lalu, jauh sebelum karut-marut urusan persampahan di Bali, I Nengah Sutaba, sudah getol mengupas tantangan dan peluang yang bakal terjadi. "Siapa yang mau mengurus sampah, dia akan menjadi orang kaya," kata Sutaba kala itu.
Kini, usianya memasuki 65 tahun. Pria asal Banjar Dinas Kaler, Desa Antiga, Manggis, Karangasem ini, mengakhiri karir pegawai negeri sipil di Dinas Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Kabupaten Karangasem.
Sebelumnya, ia sempat mengabdi di Dinas Pendidikan Kabupaten Karangasem. Ditugaskan di SDN 1 Antiga sebagai tenaga kependidikan. Tugasnya lebih membantu administratif oprasional sekolah.
Namun, sorot matanya yang tampak garang bak sosok Rahwana dalam epos Ramayana, selalu melirik kelas-kelas yang kosong. Jika guru mata pelajaran belum hadir atau izin, Sutaba muncul.
Matematika menjadi pelajaran favoritnya. 99,99 persen murid di kelas itu dipastikan "membenci" pelajaran yang dianggap menguras otak. Satu persatu murid ditunjuk batang hidungnya. Keringat dingin sebiji jagung mengucur karena kebingungan menjawab. Jadilah Sutaba sosok yang mencekam.
Sesekali, ia berbagi pengetahuan tentang bahasa Inggris atau geografi. Era 1990-an, ia pula yang mengenalkan kalimat "Time is money" kepada murid-murid desa. Kalimat sangat asing yang belakangan diketahui artinya "waktu adalah uang".
Dia dikenal tegas. Bahkan terhadap anak kandungnya sendiri yang kebetulan bersekolah di tempatnya mengabdi.
Sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi mantan muridnya, kala itu semua murid diwajibkan membawa ember berukuran standar untuk menyiram halaman. Namun ada beberapa yang membawa ember berukuran kecil.










