Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, SS., MBA., MM., M.Hum., membagi fase-fase kehidupan sebagai berikut:
Pertama, 0-20 tahun. Usia ini dikatakan sebagai usia dasar pembentukan karakter. Tirka Widanti pun merasa teori-teori yang berkembang tetang fase kehidupan, tidak jauh berbeda dari pengalaman pribadinya.
Di usia ini, ia pernah merasa terpukul akibat gagal meraih kursi perguruan tinggi negeri khususnya fakultas kedokteran.
Usia 30-40 tahun. Berdasarkan pengalaman pribadinya, dalam fase ini ia dan keluarga fokus pada pendidikan, pangan, sandang dan papan.
"Usia ini sedang pingin banget punya ini itu. Mobil lah, rumah lah. Lanjutin pendidikan saya dan anak-anak juga. Tapi Astungkara fase ini kami lalui dengan lancar," kenangnya.
Papatah "Kehidupan baru dimulai sejak usia 40 tahun" benar-benar ia rasakan. Di fase 40-50 tahun, ia menamatkan studi doktor. Fase saat ini, 50-60 kematangan hidup semakin ia rasakan, meskipun ia tak pernah merasa berada di puncak kesuksesan.
"Saya tidak pernah merasa menjadi orang sukses. Susah mendefinisikan. Sebab prinsip yang saya pegang, jangan pernah berhenti belajar," ungkapnya.
Secara de facto dan de jure, saat ini, menjelang 60 tahun usianya, Prof. Tirka Widanti tergolong paripurna dalam hal pencapaian hidup. Menjabat Rektor, Profesor, Petinggi di Green School juga berwirausaha.
Soal anak-anak, ia dan suami sejak awal sepakat menyerahkan pilihan hidup masing-masing. Yang penting bertanggung jawab atas pilihannya. Salah satu dari 3 buah hatinya benar-benar menjadi dokter. Membayar "utang" ibunya ke mendiang kakek-neneknya.










