"Bakteri baik ini akan mampu menempel pada sel epitel usus kita, lalu membentuk satu koloni maka akan menutup pintu jalan masuknya antigen ke dalam usus dan meneruskan perjalanan ke peredaran darah," katanya.
Lebih dari itu, ketika probiotik berada di sel epitel usus, probiotik juga mampu meningkatkan penyerapan zat gizi terutama yang ada hubungannya dengan imunitas seperti zinc. Zat gizi zinc atau seng merupakan salah satu zat yang berperan dalam sistem imunitas bersama zat besi.
"Keberadaan microflora positif atau probiotik di dalam usus juga mampu meningkatkan produksi sel darah putih pada tubuh. Seperti diketahui, sel darah putih memiliki peran sebagai fagositosis atau pemakan zat-zat patogen seperti virus atau bakteri yang masuk ke dalam di tubuh. Sehingga apabila jumlah sel darah putih yang semakin banyak akan sangat mudah memakan agen toksik yang berbahaya di dalam tubuh," ujarnya.
Dokter Rita menjelaskan, probiotik juga mampu memproduksi sitokin. Pada orang sehat sitokin yang banyak mampu menstimulasi pembentukan sel beta yang kemudian berlanjut terbentuknya imunoglobulin atau antibody untuk melawan penyakit di dalam tubuh. Selain meningkatkan imunitas, probiotik juga memiliki manfaat lain seperti memperpanjang usia hidup seseorang.
"Peneltian menyebutkan apabila seorang manusia bisa mempertahankan microflora positifnya sebanyak 80 persen berbanding 20 persen terhdap microflora negative, maka orang tersebut memiliki usia harapan hidup jadi lebih panjang. Oleh karena itu menjadi sangat penting agar bisa menjaga keberadaan bakteri baik atau probiotik di dalam tubuh. Namun sayangnya, gaya hidup yang tidak sehat bisa membuat probiotik dalam tubuh jadi menurun atau bahkan tidak tersedia," terangnya.










