Konservasi Lontar, Belum Ditemukan Naskah Kuno dan Unik di Gianyar

Koordinator konservasi lontar, I Wayan Suarmaja, Minggu (20/11/2022) menyebutkan Tahun 2022 ini jumlah lontar yang berhasil di konservasi sudah mendekati seribuan takep. Hanya saja, khusus kabupaten Gianyar belum ditemukan lontar yang unik, langka atau yang sangat tua.

 Save as PDF
(Last Updated On: )
GIANYAR-fajarbali.com | Menjelang akhir Tahun 2022, konservasi lontar di Kabupaten Gianyar sudah mencapai hampir seribuan takep yang berhasil di konservasi. Saat ini, masyarakat sudah mulai terbuka terhadap lontar, bersedia dibuka dan dirawat. 
Koordinator konservasi lontar, I Wayan Suarmaja, Minggu (20/11/2022) menyebutkan Tahun 2022 ini jumlah lontar yang berhasil di konservasi sudah mendekati seribuan takep. Hanya saja, khusus kabupaten Gianyar belum ditemukan lontar yang unik, langka atau yang sangat tua. “Gaya penulisan pada lontar masih dengan style Aksara Bali pada umumnya, belum ditemukan gaya penulisan yang klasik,” jelas Wayan Suarmaja. Lontar yang unik pada style penulisan dan dengan aksara Bali tua, pernah ditemukan di Buleleng, sehingga untuk membacanya mengajak ahli Sastra Bali. 
 
Sedangkan lontar yang banyak ditemukan di Gianyar lebih banyak berisi tentang Wariga, Sasana Kapamangkuan, Tutur, Kadyatmikan dan Lontar Usadha. “Umumnya yang ditemukan lontar seperti itu, dan sebagian kecil ada puja mantra sulinggih,” tambahnya. Hal lainnya, untuk lontar merata ditemukan merata di setiap desa di Gianyar. Dimana di setiap desa, pasti ditemukan beberapa warga yang mengoleksi lontar baik baru dan warisan leluhur. Disebut lagi, kondisi lontar sebagian sudah mengalami kerusakan akan dimakan usia atau dimakan ngengat sehingga lapuk. “Ini biasanya tergantung tempat penyimpanan. Kalau tempat penyimpanan lembab, maka akan mudah rusak,” tambahnya. 
 
Untuk konservasi mengakhiri Tahun 2022 di Gianyar, akan melakukan konservasi di Desa Blahbatuh dan sekitarnya. Diharapkan masyarakat yang memiliki koleksi lontar agar bersedia di konservasi dan tidak menjadikan lontar sebagai hal yang angker sehingga berakhir lapuk. “Selama ini, masyarakat sudah terbuka walau ada satu dua warga yang masih mengkultuskan lontar,” tambahnya. Disisi lain, lontar yang sering dibuka atau dibaca, justru lebih awet dibanding dengan disimpan dalam peti.sar
 Save as PDF

Next Post

Giant Belum Bebas Rabies, Vaksinasi Terus Digalakkan

Ming Nov 20 , 2022
Dilanjutkan, pelaksanaan eliminasi dan vaksinasi di tempat yang sama pada Sabtu (19/11/2022). Di Banjar Samu, diperkirakan populasi anjing sekitar 315 ekor dan tahap kedua berhasil divaksinasi sebanyak 157 ekor, steril sebanyak 13 ekor dan kastrasi sebanyak 16 ekor.
IMG_20221120_112421-59a3a981

Berita Lainnya