Penyatuan visi misi di internal, menurutnya sangat penting untuk menjaga ‘cita rasa’ khas Puri Bunda. Pelayanan berbasis digital pun tengah gencar dikembangkan manajemen untuk memudahkan komunikasi dengan pasien.
“Jadi tidak ada pasien yang ketergantungan dengan satu dokter. Semua punya kualitas yang sama. Meski kokinya berbeda, tapi cita rasa masakannya khas Puri Bunda. Dalam layanan kesehatan, kita harus bangun standar, misalnya kalau tergantung dengan satu dokter, bagaimana kalau yang bersangkutan sedang sakit atau libur? Kan repot,” tegasnya.
Lebih lanjut, Semadi Putra, mengungkapkan, RSIA Puri Bunda juga berkomitmen ‘mengobati’ rumah sakit yang sedang ‘sakit’. Komitmen ini telah dilakukan terhadap salah satu rumah sakit di Ubud, Gianyar. Siapapun pengelola rumah sakit yang membutuhkan bantuan untuk menyehatkan kembali operasionalnya, pihkanya siap membantu, tentunya dengan perjanjian khusus dan berpedoman pada prinsip saling menguntungkan.
Komite Pengarah PT. Puri Bunda Dr. dr. I Gede Budiarta, Sp. An. KMN, pada kesempatan yang sama menambahkan, Corporate Gathering dengan tema “Bergandengan Tangan Semakin Guyub Melayani” menjadi suplemen insan puri bunda dan rekanan untuk meningkatkan lagi kualitas pelayanan, meskipun sudah sangat baik.
Dengan kegiatan ini, para mitra akan mendapatkan “memorable experience” atau pengalaman yang mengesankan.

Budiarta berpandangan, mengelola mengelola intansi layanan kesehatan tidak lah mudah. Tantangan yang kompleks selalu mengiringi, tidak terkecuali yang dihadapi manajemen Puri Bunda.










