Kendala Anggaran, Pelaksanaan Desa Wisata Bambu Desa Belega Ditinda

Alasan penundaan karena anggaran untuk pengembangan sangat terbatas dan tidak bisa dibuat secara bertahap. “Kalau dibuat bisa, namun biaya pemeliharaan barang yang belum jadi kan tinggi. Sehingga kami memutuskan menunda sampai Tahun 2024 nanti,” ujarnya. 

 Save as PDF
GIANYAR-fajarbali.com | Pengembangan Desa Wisata Bambu Belega yang pernah direncanakan Tahun 2021 lalu, kini ditunda. Penundaan ini lebih disebabkan karena terbatasnya dana untuk menggarap program tersebut, mengingat pengembangan desa wisata ini sebaiknya dibuat sekaligus dan tidak bertahap.
Hal ini dijelaskan Perbekel Belega, I Ketut Trisna Jaya, Rabu (7/12/2022), sehingga kemungkinan dilanjutkan setelah Tahun 2024 mendatang. Dikatakannya saat ini program pengembangan desa adalah fokus Program Jalan Usaha Tani dan penguatan Ketahanan Pangan. “Kita fokus ke dua progran tersebut termasuk penanganan sampah, sedangkan pengembangan desa wisata kami tunda pelaksanaannya,” jelas Trisna Jaya. Alasan penundaan karena anggaran untuk pengembangan sangat terbatas dan tidak bisa dibuat secara bertahap. “Kalau dibuat bisa, namun biaya pemeliharaan barang yang belum jadi kan tinggi. Sehingga kami memutuskan menunda sampai Tahun 2024 nanti,” ujarnya. 
 
Ditambahkan, saat ini perajin bambundi Desa Belega masih ada sekitar 80 perajin. Dikatakannya, sebagian perajin bambu memilih bekerja ke luar daerah ikut rekanan. “Perajin memilih bekerja ke luar seperti ke NTT, Sumba atau daerah lain,” ujarnya. Bahkan sebanyak 15 perajin berangkat ke India untuk membuat proyek bangunan bambu. Sehingga praktisnya, bagi pemuda yang sudah bisa membuat kerajinan bambu, peluang kerja masih sangat terbuka. Sedangkan yang masih tinggal adalah perajin yang tua-tua dan sebagian masih pemula. “Kebutuhan akan perajin bambu tinggi untuk di luar Bali, peluang kerjanya masih terbuka,” jelasnya. 
 
Selain diminati oleh warga Italia, Amerika atau negara lain, bangunan monumental yang pernah dikerjakan perajin bambu Desa Belega adalah mengerjakan ruang jamuan peserta Presidensi G20 beberapa waktu lalu. “Ya, sebagian besar pekerjanya dari Desa Belega, mereka juga mendapat pengalaman mengenai model struktur rancang bangun bambu, sehingga pengalaman tersebut bisa dikembangkan,” jelasnya lagi. Disisi lain, kebutuhan bambu lebih banyak dipasok dari Kabupaten Bangli dan Tabanan, termasuk dari luar Bali seperti dari Lombok.sar
 Save as PDF

Next Post

Tujuh Tersangka Pencabutan Penjor Ditahan

Rab Des 7 , 2022
"Kami menahan karena untuk mempercepat proses hukum, sedangkah untuk penangguhan penahanan kami akan berkoordinasi dengan JPU, apakah dikabulkan. Untuk proses pelimpahan ke Pengadilan Negeri Gianyar paling lambat minggu depan dan dilanjutkan dengan masa persidangan.
IMG_20221207_141002-68df986a

Berita Lainnya