Kemah Konservasi Selancar Pertama Digelar di NTT

1.Para peserta beserta undangan berfoto bersama seusai kegiatan pembukaan Kemah Konservasi Selancar di depan Pantai Kerewei, Sumba Barat[1]

Komunitas adat di Sumba atau yang dikenal dengan masyarakat Marapu, hidup dengan nafas kearifan lokal secara turun temurun yang sangat kental terkait keterhubungan antara darat dan laut. Para Rato (pemimpin adat) yang juga turut hadir dalam kegiatan ini mengungkapkan pertumbuhan wisata selancar dan pembangunan di daerah pesisir Sumba Barat diharapkan dapat diimbangi dengan upaya pelestarian ekosistem sekitar agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur.

“Saya bersama masyarakat adat di Sumba ini turun-temurun menjaga alam karena alam sangat penting bagi masyarakat Marapu. Kami memiliki kesepakatan adat yang mengatur tentang pengelolaan sumber daya alam darat, pesisir dan laut wilayah adat,” ungkap Rato Mati Duka Kobu. Melalui program Konservasi Selancar, pemberdayaan masyarakat lokal dikuatkan dalam mengelola sumber daya alam dan mempertahankan kearifan lokal yang telah dijaga selama ini.

Dengan tema “Empowering the next generation of Indigenous Surfers and Conservation Leaders”, acara ini terdiri atas kegiatan belajar dan latihan (baik di darat maupun di air), dengan dipandu oleh para instruktur dan pegiat konservasi. Petrus Laja yang merupakan instruktur selancar lokal asal Sumba Barat menyampaikan antusiasmenya dapat melatih anak-anak muda. “Saya percaya bahwa alam Sumba harus kita jaga demi kehidupan kita semua. Saya merasa bangga dapat terlibat dalam kegiatan ini berharap suatu saat nanti saya bisa mendirikan sekolah khusus selancar bagi anak-anak di Sumba Barat agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Di sisi lain, ada banyak terumbu karang, hewan-hewan laut seperti ikan, penyu, bahkan dugong dan lainnya yang harus kita jaga,” ujarnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top