Tidak Ada yang Sempurna
Sementara itu, Dr. Yuliana Eva Riany, S.P., M.Ed, akademisi, membahas dari sisi perkembangan psikologis, Ia menjelaskan bahwa masa remaja (10–24 tahun) adalah masa transisi penting dari anak menuju dewasa. Emosi remaja bersifat fluktuatif, mudah tersulut, dan sangat peka terhadap kritik.
"Di usia remaja awal (10–13), anak mulai sadar aturan, tapi juga mulai ingin mengikuti teman. Di remaja tengah (14–17), mereka mulai membatasi interaksi dengan orang tua. Disinilah pentingnya koneksi emosional sebagai jembatan antara hati anak dan orang tua," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa baik orang tua maupun anak harus terus belajar agar terbangun hubungan “win-win” yang saling memahami dan menghargai. "Tidak ada remaja yang sempurna, tidak ada orang tua yang sempurna. Tapi ketika keduanya saling belajar, itulah relasi yang sehat," tutupnya.
Pandu Jlang Gemilang, mahasiswa IPB University, yang mewakili suara remaja menyampaikan bahwa hal yang paling sulit dalam relasi dengan orang tua adalah berbicara secara terbuka karena takut dihakimi.
"Kadang cerita sama bestie aja sulit, apalagi ke orang tua. Harapan kami, semoga orang tua bisa memberikan restu atas minat dan bakat kami, mendampingi tanpa mengendalikan, dan memberikan kepercayaan," ungkap Pandu.
Ia menekankan bahwa komunikasi ideal harus dimulai dari kedua belah pihak "Orang tua mau mendengarkan, anak tidak sungkan bercerita. Yang penting tidak menghakimi. Sama-sama belajar dan terbuka," ujarnya dalam closing statement.










