Menurutnya, AI adalah teknologi cerdas, tapi tidak punya rasa. "Karena itu ketika membikin caption kita harus paksa AI menuruti rasa kita. Harus berani menegur AI kalau tidak sesuai dengan gaya kita," kata Sabri.
Sabri kemudian mengambil kaleng bertuliskan kopi luwak Meluwes yang merupakan produk binaan Rumah BUMN Bangli untuk difoto dengan ponsel.
Selanjutnya AI diminta membuat caption dengan dua narasi, serius dan lucu. Dalam hitungan kurang dari 5 menit, AI pun menjawab
"Mantap betul kopi luwak Meluwes. Kemasannya cakep elegan dengan sentuhan emas. Ini pakai arabika Kintamani. Kopi luwak Kintamani terkenal punya cita rasa," tulis AI.
"Gaya elegan dan kuat. Bukan sekadar kopi. Ini warisan rasa dari tanah Bali. Meluwes kopi luwak arabika Kintamani yang kaya karakter dan aroma pilihan bagi yg tahu cara menikmati hidup," tulis AI lagi.
Tidak berhenti sampai di sini. AI juga membuatkan tagar untuk produk kopi luwak yang sudah menembus pasar luar negeri ini. "Tinggal kita copy paste lalu masukkan ke caption," ujar Sabri.
Cerdasnya lagi, AI sampai menawarkan versi bahasa Bali untuk membuat caption. "Sok banget AI ini," celetuk Sabri disabut tawa renyah peserta.
Sabri menambahkan, AI juga sangat membantu pelaku UMKM dalam membuat desain kemasan sampai menciptakan foto dan video tentang produk yang akan dijual.
"Jadi AI ini kita anggap karyawan yang siap kerja 24 jam, tidak pernah mengeluh, apalagi minta naik gaji," imbuh Sabri kembali disambut gelak tawa peserta.
"Beruntung sekali saya ikut," ujar Pande Wiranata, owner De Nata Bakery, usaha donat yang salah satunya menyuguhkan topping sambal matah.










