Terkait tema yudisium, Merajut Inklusi, Menyatukan Harmoni dalam Tri Hita Karana, menurut dia, bukan sekadar kata-kata indah. Itu adalah pesan kehidupan. Inklusi berarti membuka hati, merangkul semua perbedaan. Harmoni berarti menyatukan langkah, bukan saling menjatuhkan. Dan Tri Hita Karana mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hubungan yang selaras: dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam semesta.
"Auditorium ini menjadi saksi, kita berkumpul bukan sekadar untuk meresmikan sebuah gelar, melainkan untuk merajut kisah perjuangan, cinta, dan pengorbanan," ujarnya.
Sementara itu, I Wayan Kamar, bertekad menerapkan segala ilmu yang didapatkan dalam kapasitasnya sebagai kepala desa. Banyak hal yang didapatkan selama kuliah, terutama bertukar wawasan dengan dosen dan sesama mahasiswa.
Senada, Perbekel Batu Kandik, Nusa Pendida, I Wayan Katon, mengaku tidak salah memilih FISHUM UNR. Bahkan ia ingin melanjutkan ke Magister Administrasi Publik di Program Pascasarjana UNR.
"Di era kemajuan seperti sekarang ini, para pemimpin di banjar dan desa dituntut memiliki kompetensi lebih baik dari sisi wawasan dan keilmuan," ungkapnya.
Sedangkan Gede Agastya, tengah mempersiapkan diri mendaftar sebagai pegawai di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kombinasi keahlian olahraga dan ilmu administrasi publik yang dimilikinya dinilai sangat membantu dirinya dalam menapaki karir setelah lulus sarjana.










