Secara empiris, temuan penelitian menunjukkan tujuh buah diskursus ideologi berkontestasi dari keberadaan palinggih mobil di Pura Paluang sebagai bangunan suci dalam ranah arsitektur parhyangan di Nusa Penida, yaitu (1) tanda wahana dewata, (2) mandala pura, (3) ketuhanan posspiritual, (4) sakti-tantris, (5) siwa-siddhanta, (6) konsumtif, dan (7) dualisme kultural. Diskursus ideologi ketuhanan posspiritual tampaknya paling dominan. Temuan berkategori implikasi diskursus ideologi juga terungkap dari palinggih berikonik mobil di Pura Paluang, yang dapat dikelompokkan menjadi empat, yakni arsitektural, sosial, religius, dan daya tarik wisata. Kristalisasi dari kontestasi ketujuh diskursus ideologi tersebut adalah “diskursus ideologi posspiritual”, yakni simbiosis hasrat-kesucian dan dialog transbudaya.
Prof. Dr. I Nyoman Suarka selaku promotor menyampaikan bahwa keunggulan hasil penelitian disertasi dari I Putu Gede Suyoga adalah membongkar ideologi di balik diskursus palinggih mobil di Pura Paluang, Nusa Penida. Bahkan, di balik tanda hibriditas tersebut dan menemukan kuasa pengetahuan dalam bentuk strategi, taktik, manuver yang bermain di arena kehidupan masyarakat Karang Dawa. Ada sejumlah pergulatan kurikular berbasis diskursus ideologi dalam wujud dialog tanda trans budaya yang teridentifikasi melalui bentuk artikulasi, disartikulasi, osmosis, anomali budaya, mimikri, dan kontestasi identitas.
Di akhir penyampaiannya, Prof. Dr. I Nyoman Suarka selaku promotor juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. dan Dr. I Wayan Suwena, M.Hum., selaku kopromotor, para dosen penguji, serta seluruh dosen pengajar yang telah membimbing promovendus selama menempuh pendidikan di Program Studi Doktor Kajian Budaya sehingga dapat meraih gelar akademik tertinggi. (rl)










