“Proses pembentukan diskursus ideologi terkait dengan adanya pergulatan kepentingan melalui kuasa pengetahuan, proses konstruksi identitas arsitektural, menempatkannya sebagai sebuah kategori semiotis, dilampauinya bahasa tanda tradisional, dan kuatnya anomali budaya. Kontestasinya, yaitu diskursus ideologi tanda wahana dewata, mandala pura, ketuhanan-posspiritualitas, sakti-tantris, siwa siddhanta, konsumtif, dan dualisme kultural. Diskursus ideologi posspiritualitas paling dominan dalam kontestasi tersebut, yakni simbiosis hasrat-kesucian dan transbudaya,” terang Suyoga.
Simpulannya, palinggih berikonik mobil dipahami sebagai episteme baru berupa karya arsitektur hibrida di ranah arsitektur parhyangan. Sejumlah pergulatan kultural berbasis diskursus ideologi menunjukkan dialog kompromi transbudaya. Upaya normalisasi melalui proses mistifikasi ikonik mobil sebagai bentuk palinggih non-mainstream. Transformasi terbentuk melalui mekanisme artikulasi- disartikulasi, osmosis, anomali budaya, mimikri, dan kontestasi identitas.
“Hal itu menguatkan implikasi posmodern di ranah arsitektur pemujaan, religi, sosial, dan pariwisata masyarakat Karangdawa, Nusa Penida,”jelasnya.
Dalam disertasinya, I Putu Gede Suyoga menemukan bahwa konsep-konsep teori relasi pengetahuan kekuasaan Foucault relevan dalam ranah praktik sosio religious, yakni dalam mengungkap struktur pemaknaan berbasis bangunan pemujaan keagamaan hinduisme di Karangdawa. Konsep-konsep teori Bourdieu (terutama habitus, modal, dan ranah) juga relevan dikembangkan dalam ranah tersebut, melengkapi analisis metode arkeologi pengetahuan dan geneologi kekuasaan Foucault dalam kancah penelitian.










