“Sekarang di Batur banyak sekali tempat nongkrong dan coffee shop yang menutupi wajah Gunung Batur. Ini menunjukkan kekuatan modal bisa mengubah wajah peradaban Batur ke depan. Mari kita jaga peradaban Batur ini, jangan sampai alamnya hancur,” jelasnya.
Di tengah diskusi, seorang peserta Bincang Pustaka juga menyampaikan kecemasan yang sama perihal keberlanjutan perabadan Batur ke depan. Salah satunya adalah Dosen FIASB UNHI I Gusti Agung Paramita yang mengkhawatirkan akan terjadinya “Rarud Kedua” di Batur.
Jika Rarud Pertama terjadi akibat bencana alam, Rarud Kedua bisa saja terjadi akibat “bencana modal” yang tidak terkendali masuk ke jantung peradaban Batur.
“Saya melihat kelahiran buku ini tidak hanya sebagai pangeling-eling terhadap peristiwa masa lalu yang dikenal dengan Rarud Batur, tetapi juga tercium aroma kecemasan melihat masa depan. Kian berubahnya lanskap Batur saat ini menunjukkan bahwa Batur tidak baik-baik saja. Arus modal kian kuat masuk ke Batur, bahkan bisa dikatakan tanpa kendali. Selain itu, perubahan cara berpikir masyarakat Batur juga bisa menjadi penyebab transformasi di Batur. Oleh sebab itu, diperlukan wacana kritis dari akademisi perihal yang terjadi di Batur, tidak sekadar mengangkat sistem nilai luhur saja. Batur mesti menjadi medan studi para akademisi UNHI. Kampus harus berperan aktif menjaga peradaban Batur, jangan sampai masyarakat Batur terasing bahkan “rarud” karena derasnya ekspansi modal,” tutupnya. (rel)










