Ia menambahkan, peristiwa Rarud Batur juga memberikan informasi perihal upaya penyelamatan benda-benda pusaka yang sakral dari Pura Batur.
Tim evakuasi saat itu berhasil menyelamatkan tinggalan seperti arca perwujudan, pusaka, pustaka, termasuk rangka Jero Agung (Bale Pesamuhan) Pura Ulun Danu Batur. Benda-benda yang disakralkan ini ditempatkan di Desa Bayunggede.
“Meskipun benda-benda sakral berhasil diselamatkan, namun saat itu tidak semua warga Batur bersedia direlokasi. Banyak dari mereka ingin bertahan di desa lama, alasan ini mungkin terkait dengan keyakinan bahwa desanya adalah kawasan suci. Meski demikian akhirnya pada tahun 1928 Desa Batur resmi direlokasi ke Kalanganyar,” jelasnya.
Eriadi juga memaparkan sisi lain dari peristiwa Rarud Batur yakni peran jejaring persaudaraan lintas desa yang solid yang sering disebut Batun Sendi Bhatari Sakti Batur.
Batur memiliki aliansi antardesa yang bernama Batun Sendi, aliansi ini diikat dengan situs, ritus, serta pranata adat yang kompleks. Mereka adalah komunitas “ring satu” yang menyokong setiap denyut peradaban Batur. Anggota Batun Sendi Batur terdiri dari Desa Bayunggede, Buahan, Selulung, Sekardadi, Bonyoh dan Sribatu.
“Desa-desa Batun Sendi ini adalah tenaga pertama yang membantu evakuasi, termasuk evakuasi benda-benda sakral. Kekerabatan Batur dengan Batun Sendinya terjalin apik sampai sekarang. Semoga melalui buku ini, kesadaran kolektif ini tetap terjaga dengan baik,” bebernya.
Dilanjutkan oleh Eriadi, peristiwa Rarud Batur memberikan dua pesan penting yakni kebertahanan dan keberlanjutan. Selama ini kita masih mempertahankan warisan nilai masa lalu di Batur, namun juga mesti memastikan keberlanjutan di tengah berbagai tantangan yang terjadi. Apalagi, lanjutnya, Batur saat ini seperti “benteng terbuka” yang membuka ruang bagi mereka-mereka yang berinvestasi.










