Jangan Sampai Masyarakat Batur “Rarud” Akibat Arus Modal 

IMG-20251005-WA0003
“Bincang Pustaka” serangkaian Dies Natalis ke-62 Kamis 2 Oktober 2025 di Aula Indraprasta Gedung Rektorat UNHI. Pustaka yang dibahas sangat menarik yakni Buku Bunga Rampai berjudul Seabad Relokasi Batur.

DENPASAR-fajarbali.com | Universitas Hindu Indonesia atau Inhil mengadakan “Bincang Pustaka” serangkaian Dies Natalis ke-62 Kamis 2 Oktober 2025 di Aula Indraprasta Gedung Rektorat UNHI. Pustaka yang dibahas sangat menarik yakni Buku Bunga Rampai berjudul Seabad Relokasi Batur. Setidaknya 26 penulis terlibat dalam buku ini.

Mereka mengkaji peradaban Batur dari berbagai sudut pandang. Bincang Pustaka ini juga menghadirkan tiga pembicara yakni Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil. H selaku Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Guru Besar Bidang Sastra Jawa Kuno Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si, dan IK. Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur). Hadir juga Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si memberikan Opening Speech. Bincang Pustaka dipandu moderator Komang Agus Triadi Kiswara, Spd.H, M.Pd.

Pertanyaannya, apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dalam buku Seabad Relokasi Batur ini? Apakah buku ini hanya sekadar peringatan terhadap peristiwa kelam di masa lalu akibat bencana alam? 

I.K Eriadi Ariana (Jro Penyarikan Duuran Batur) menyampaikan bahwa buku ini ditulis sebagai bentuk peringatan terhadap peristiwa yang terjadi seabad lalu yakni tahun 1926 yang dikenal dengan “Rarud Batur”.

Peristiwa erupsi Gunung Batur ini mengharuskan masyarakat Batur berpindah mencari lokasi baru karena lava pijar yang keluar dari perut Gunung Batur kala itu berhasil menenggelamkan seluruh peradaban Desa Batur Let. 

“Buku ini berupaya menjejak peristiwa tersebut sembari merefleksikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Rarud Batur,” papar Eriadi Ariana yang juga penulis buku Ekologisme Batur. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top