"Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pengelolaan destinasi pariwisata, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap sektor pertanian, yang menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan daerah. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat membantu petani mengendalikan hama secara alami, mendukung pelestarian biodiversity, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menciptakan nilai bersama yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan daerah," ujar Agus Dwiatmika.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa program ini juga mencerminkan komitmen ITDC untuk terus memperluas dampak positif perusahaan melalui berbagai program Community Development yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, konservasi ekosistem daratan, dan penguatan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan.
Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, dr. I Wayan Wirawan, S.Ked., M.M., menjelaskan, burung hantu Tyto Alba merupakan salah satu predator alami paling efektif dalam mengendalikan populasi tikus sawah. Seekor burung hantu dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malam sehingga menjadi solusi pengendalian hama yang efektif tanpa merusak keseimbangan ekosistem maupun mencemari lingkungan akibat penggunaan bahan kimia.
"Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hayati telah terbukti mampu membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap racun tikus. Selain lebih ramah lingkungan, metode ini juga mendukung terciptanya ekosistem pertanian yang lebih sehat, menjaga keseimbangan rantai makanan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati," jelas dr. I Wayan Wirawan.










