Dimulai dengan rasa ingin meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang kepedulian lingkungan, terutama pentingnya mengkategorikan sampah yang masih bisa di daur ulang. Membuat Fatma Janna (28), Putri Cinto Buliah M. Eza (22), Yohanes Perdana Putra (30), dan Julius Sintara (22) memutuskan membuat Garbage Image Classification, sebuah sistem untuk mengelompokkan dan mengolah sampah menggunakan metode machine learning.
"Pada dasarnya, sampah non-organik seperti plastik, metal dan kaca sangat bisa didaur ulang. Masalah yang sering dihadapi di ranah pengelolaan sampah adalah karena sampah yang ada bercampur satu dengan sampah lainnya. Sehingga biaya daur ulang cukup tinggi. Dari 1 miliar ton sampah daur ulang yang dihasilkan di dunia, baru 13.5% yang didaur ulang. Sisanya berakhir di laut maupun di daratan menjadi onggokan atau gunung sampah," Ungkap tim Garbage Detection.
Dengan menggunakan Garbage Image Classification, masyarakat cukup membawa sampah ke mesin daur ulang yang berbentuk seperti reverse vending machine atau from trash to cash, nantinya bisa di pasang di pemukiman warga atau tempat umum. Lalu, secara otomatis mesin akan mengklasifikasikan sampah, sehingga ketika sampah dihantarkan ke pusat daur ulang, sampah sudah rapi terpilah dengan baik dan bisa mengurangi biaya pengolahan sampah daur ulang.
Jika telah melakukan proses ini, orang tersebut mendapatkan imbalan berupa uang atau voucher. Misalnya, satu kaleng minuman ringan yang ditukarkan di mesin ini akan mendapatkan Rp 1.000 sebagai bentuk terima kasih karena telah membantu proses daur ulang. Selain itu, cara ini juga memberikan dorongan kepada masyarakat agar lebih semangat melakukan daur ulang. (dj/rls)










