Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, menyambut positif gelaran perdana ini. Menurutnya, festival seni tari bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen diplomasi dan pengembangan potensi talenta lokal. “Indonesian International Latin Festival & Asia-Pacific Salsa Summit 2026 menjadi wadah bagi seniman, instruktur, penari, dan komunitas dari berbagai negara untuk berkolaborasi, berkompetisi, dan bertukar budaya. Seni tari merupakan bagian penting dari ekonomi kreatif yang mampu mendorong pengembangan talenta, diplomasi budaya, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan pertamanya, panitia menargetkan partisipasi dari 300 hingga 500 peserta, di mana sekitar 70 persen di antaranya merupakan penari mancanegara. Para peserta diproyeksikan hadir dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik dan sekitarnya, seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, China, Singapura, Thailand, India, hingga Selandia Baru. Tingginya antusiasme internasional ini membuktikan daya tarik Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan berskala global.
Daya tarik utama festival ini semakin menguat setelah Indonesia secara resmi mengantongi lisensi dari The Summit Championship, New York, Amerika Serikat, untuk menggelar Asia-Pacific Summit International Competition. Pencapaian ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang dipercaya memegang lisensi ajang bergengsi tersebut. Kehadiran kompetisi berstandar dunia ini menempatkan Indonesia secara sejajar dalam peta kompetisi Latin dance internasional.










