Dengan dukungan asupan makro dan mikronutrien, risiko bayi lahir dengan masalah gizi dapat ditekan, sementara anak-anak yang sedang tumbuh memiliki peluang lebih besar berkembang sehat, cerdas, dan produktif.
Bukti ilmiah dari WHO dan UNICEF menegaskan bahwa investasi gizi pada 1.000 HPK memberikan manfaat jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Dengan memperkuat gizi pada masa paling kritis ini, Indonesia sedang menyiapkan generasi yang lebih kuat untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Peran MBG Sasaran 3B
Praktik konkret dari program MBG dengan sasaran 3B bisa berupa pemberian paket makanan yang kaya protein (misalnya susu, daging, ikan, kacang-kacangan), zat besi, dan mikronutrien lain seperti vitamin A dan yodium.
Selain itu, MBG bisa meliputi suplementasi khusus—misalnya tablet zat besi + asam folat untuk ibu hamil (sesuai rekomendasi harian 30–60 mg zat besi elemental + 400 μg asam folat) —sebagai upaya mencegah anemia dan mendukung pertumbuhan janin.
Disamping itu, edukasi gizi kepada keluarga sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian edukasi gizi pada ibu hamil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik diet yang lebih baik.
Bagi ibu menyusui, dukungan gizi yang memadai mempengaruhi kualitas dan konsentrasi mikronutrien dalam ASI—misalnya status vitamin A & karotenoid ibu berhubungan erat dengan kandungannya di ASI. Dengan demikian, MBG dapat memperkuat kualitas ASI, mendukung tumbuh kembang bayi secara optimal.
Untuk balita non-PAUD (balita yang belum masuk PAUD), kelompok ini sering lebih rentan terhadap kekurangan gizi karena mereka tidak terjangkau program pendidikan gizi atau layanan tambahan. MBG dapat mengurangi kesenjangan akses gizi dan membantu memastikan bahwa balita di luar jalur formal tetap mendapatkan asupan nutrisi yang memadai.










