Implementasi MBG 3B Menuju Indonesia Emas 2045

IMG-20250928-WA0009
(ilustrasi)-Kepala Perwakilan BKKBN Bali dr. Luh Gede Sukardiasih, mengunjungi balita.

Stunting bukan hanya soal kurangnya tinggi badan. Namun anak pendek bukan berarti stunting. Yang pasti, anak stunting berisiko mengalami gangguan kognitif, kesulitan belajar, hingga lebih rentan terhadap penyakit di masa dewasa.

Termasuk diabetes, gangguan jantung dan penyakit degeneratif lainnya. Artinya, stunting adalah masalah jangka panjang yang akan memengaruhi kualitas generasi penerus bangsa. 

Stunting bisa bermula sejak bayi dalam kandungan. Status gizi ibu, usia kehamilan, hingga berat badan bayi saat lahir menjadi penentu awal. Setelah lahir, risiko stunting semakin tinggi bila anak sering sakit, misalnya diare atau ISPA yang berulang.

Menurunkan angka stunting bukan pekerjaan instan, akan tetapi membutuhkan komitmen bersama, kerja lintas sektor, dan keberlanjutan program. Mulai dari menyediakan makanan bergizi bagi ibu hamil, memastikan bayi mendapat ASI eksklusif, memperbaiki sanitasi lingkungan, hingga memberikan edukasi gizi kepada keluarga.

1.000 HPK, Titik Intervensi Paling Efektif

Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—sejak janin terbentuk hingga anak berusia dua tahun—adalah fase emas yang menentukan masa depan.

Pada masa ini, otak berkembang pesat dan tubuh membangun fondasi penting bagi kesehatan seumur hidup. Kekurangan nutrisi dalam fase ini dapat menyebabkan stunting, sehingga intervensi gizi sejak dini menjadi sangat krusial.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai strategi penting untuk memastikan ibu hamil, bayi, dan balita memperoleh cukup gizi seimbang.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top